Kamis, 23 Agustus 2007

BERBAGI PENGALAMAN : INSTALASI SISTEM OPERASI LINUX DAN WINDOWS

Berbagi pengalaman : integrasi sistem operasi Linux dan Microsoft Windows

ABSTRAK
Perkembangan teknologi informasi, dewasa ini terjadi sangat pesat, baik ditinjau dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak. Dengan demikian, mau tidak mau pustakawan harus siap menerima perubahan dari sisi manapun. Telah lama kita sebagai pemakai teknologi informasi bergantung pada suatu produk perangkat lunak khususnya Microsoft karena keterpaksaan, dan rata-rata kita masih menggunakan secara illegal. Dengan hadirnya sistem operasi “open source”, yang dikenal dengan nama Linux, penulis ingin berbagi pengalaman yang hasilnya dapat menjadi metode pembelajaran integrasi sistem operasi Linux dan Windows. Tetapi bukan suatu keharusan, bisa saja kita pilih untuk menggunakan kedua-duanya, misal sistem operasi Microsoft kita beli dengan “license”, dan program lainnya kita gunakan “Linux” yang bersifat “free” atau sebaliknya. Motif ini timbul akibat dari beberapa faktor : pertama, banyak virus komputer yang mudah masuk ke dalam sistem operasi Windows. Kedua, maraknya operasi penggunaan perangkat lunak bajakan. Yang ketiga, hadirnya sistem operasi baru yang bersifat “Open Source” dan “free” meskipun tidak seluruhnya. Dan yang terakhir Linux dikenal sebagai sistem operasi untuk server yang cukup handal, sehingga pustakawan wajib untuk mendalaminya. Dari beberapa pengalaman berbentuk tulisan ini, diharapkan akan muncul tulisan baru dari pustakawan lain, yang tentunya dapat bermanfaat bagi pustakawan (pengguna baru Linux yang dikenal sebagai Newbie). Metode pembelajaran pertama, kita dapat menginstal perangkat lunak sejenis Microsoft Office dengan produk lain yang lebih dikenal OpenOffice.org (Linux) ke dalam Windows. Metode kedua, instalasi sistem operasi menjadi “dual boot” yang lebih dikenal dengan istilah partisi, sehingga Microsoft dapat tetap digunakan bersama Linux yang diinstal pada partisi berbeda. Yang ketiga, menggunakan bantuan “virtual machine” yang disebut “VMWare”, dimana Linux secara virtual dapat diinstal ke dalam Windows tanpa merusak sistem yang sebelumnya ada. Sedang metode keempat, “Cross Over Office Professional” dapat digunakan sebagai media install platform Windows, misal Adobe Photoshop Professional dapat diinstal ke dalam Linux. Dan yang terakhir, dapat menggunakan salah satu distro Linux yang diinstal ke dalam komputer secara langsung. Dari berbagai distro Linux yang dicoba, hampir seluruhnya dapat mengenali komponen yang terpasang di mainboard, seperti : VGA card; Sound card; LAN card dan Modem internal (jika ada). Hambatan ada namun kurang berarti, ada beberapa printer terutama Canon PIXMA iP1000 ke atas masih harus mencari driver yang berjalan di Linux. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba dengan sistem operasi “open source”, yang “free” baik di rumah ataupun di perpustakaan.

PENDAHULUAN
Di Indonesia, komputer sudah dikenal sejak tahun 80an, dimana ketika itu sistem operasinya masih belum terlihat dominannya. Namun sekitar 25 tahunan kemudian ternyata pemakai PC mayoritas didominasi dengan basis OS Microsoft Windows, terlepas dari penggunaan yang legal dan tidak legal. Di dunia Perpustakaan, efektif digunakan sebagai pangkalan data sejak sekitar tahun 1988 an---menggunakan perangkat lunak yang dikenal dengan CDS/ISIS berasal dari UNESCO dengan basis sistem operasi DOS. Selain itu juga digunakan berbagai perangkat lunak pengolah kata seperti Wordstar; Chiwritter; spreadsheet Lotus. Perkembangan begitu cepat, Microsoft Windows hadir mulai dari versi 3 hingga Windows Vista keperpihakan masih didominasi oleh MS Windows. Kita seharusnya sebagai pemakai tidak bisa mengandalkan atau fanatik dengan satu sistem operasi saja ketika kita berhubungan dengan pihak lain. Kita sebagai pustakawan harus mau melihat bagaimana Linux, yang merupakan pendatang yang masih relatif baru, dapat berhubungan dan hidup harmonis dengan Microsoft Windows, sang penguasa sistem operasi saat ini.
Dalam kenyataan, windows masih merupakan sistem operasi yang menguasai pasar di desktop, menguasai hampir 90%. Di dunia serverpun MS Windows tetap merajai, walaupun tidak sedominan di desktop. Sementara, Linux yang baru berumur sekitar 10 tahun-an, terhitung baru apabila dibandingkan dengan MS Windows yang sudah berkembang sejak tahun 80-an.
Baru sekitar dua bulan ini saya menggunakan Linux. Awalnya juga karena terpaksa. Pada saat sistem Windows saya sering terkena virus. Serta didorong dengan keinginan saya yang besar untuk mengenal Linux. Setelah sekali mencoba jadi ketagihan untuk menggunakan Linux. Bahkan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi saya jadikan tantangan yang sangat berharga bagi diri saya. Melalui internet saya coba untuk menelusuri informasi tentang Linux; dari situlah saya dapatkan dua web yang menawarkan berbagai Distro Linux. Ketika itu, saya memperoleh penjelasan dari pihak penjualannya, bahwa Mandriva 2007 dapat berjalan di dua sistem operasi, yang dikenal dengan istilah “dual boot”, artinya kita dapat memilih sistem operasi yang akan kita gunakan Linux atau Windows. Setelah saya memperoleh installer Mandriva 2007 yang terdiri dari 4 CD, dengan rasa percaya diri instalasi segera saya mulai, CD1 saya masukkan ke dalam CD ROM.

PENGALAMAN YANG BERHARGA
Biasanya dalam pemilihan media booting harus melakukan tekan F8, kemudian saya pilih device booting system dengan menggunakan CD. Proses berjalan selang satu jam instalasi selesai. Setelah proses restart komputer, ternyata menghasilkan partisi C dan D Windows termasuk direktori dan file-file hilang terformat oleh Linux dan OS yang terinstal adalah Mandriva 2007. Gembira instalasi Linux Mandriva 2007 sukses, tetapi kecewa kehilangan Windows beserta direktori dan file2nya. Dari pengalaman ini saya makin dibuat penasaran. Saya yakin komputer saya dapat bekerja dengan dua OS pilihan yaitu Windows atau Linux., maka instalasi kedua saya ulangi dengan menginstal Windows kembali. Informasi dari teman-teman, saya dianjurkan membagi partisi C menjadi dua bagian menggunakan software Partision Magic. Padahal penggunaan software inipun saya masih awam, namun dengan semangat yang kuat cara pengoperasian Partision Magic dapat saya lakukan dengan mudah. Partici C Windows saya bagi dua, yang satu tetap digunakan sebagai media OS Windows, dan bagian lain akan saya gunakan sebagai media OS Linux Mandriva 2007. Instalasi kedua saya masih mengalami kegagagalan lagi. Saat itu saya hampir putus asa, bertanya kesana-sini jawaban mereka mengatakan tetap sama bisa berjalan dua OS. Informasi tersebut hanya sebatas bisa menggunakan pastisi yang lain dan kegagalan saya tidak ditunjukkan sebab-sebabnya. Dengan keinginan yang kuat saya ulangi proses instalasi ketiga dengan pembagian partisi C, saat saya gunakan Partision Magic ada beberapa pilihan formatnya NTFS; FAT32; atau Linux. Pembagian partisi C yang kedua saya pilih format Linux. Setelah itu CD install Linux Mandriva 2007 saya masukkan dengan proses pilih media booting CD. Dalam proses instalasi yang ketiga ini saya perhatikan setiap winzard yang ada dengan seksama dan hati-hati. Tahap-tahap proses dari CD1-CD4 berakhir kurang lebih 1 jam. Ketika instalasi Linux berakhir maka komputer mulai restart, dengan perasaan berdebar-debar komputer berhenti sejenak dan muncul pilihan OS : Linux dan Windows. Mulai saat itulah saya menggunakan dua OS baik di komputer rumah maupun di perpustakaan. Operating Systems MS Windows, saya gunakan jika pekerjaan menuntut untuk menggunakannya karena belum didukung oleh OS Linux. Sedangkan Linux saya gunakan untuk pembelajaran dan mengenal lebih dalam agar saya dapat menggunakan secara lebih optimal pada OS ini.

PENGENALAN KOMPONEN PERANGKAT KERAS
Dalam pengenalan komponen yang terpasang dalam perangkat keras, Linux sudah cukup bagus mulai dari---sound; VGA; sampai LAN card, namun untuk printer saya menemui hambatan. Dari distro Linux yang pernah penulis coba dan gunakan rata-rata tersedia driver printer tipe yang lama seperti pada Canon : BJC; HP; Brother; Epson. Jika Canon yang digunakan type iP1000; 1200; 1300; 1500; 1600; dan 1700 sudah pasti kita harus menggunakan driver yang berjalan di Linux. Hambatan pada driver printer membuat saya hampir putus asa kedua. Saya berusaha mencari informasi bagaimana mendapatkan driver printer pada Linux, ada yang memberikan info menggunakan TurboPrint for Linux dimana CD ini berisi informasi tentang driver printer, dengan harga per keping Rp.10.000,- Setelah CD saya dapatkan, dengan percaya diri dan berharap besar CD tersebut saya instal ke dalam Linux saya---apa yang terjadi ternyata driver printer tidak mendukung printer Canon iP 1300 yang saya miliki. Putus asa masih belum berakhir, mendapatkan lagi informasi untuk berselancar lagi melalui web site yang beralamat Openprint.org dari web ini masih belum saya dapatkan driver yang saya cari. Kemudian saya masuk ke dalam mailing list, melalui fasilitas inilah saya menemukan beberapa tanya-jawab orang-orang dari seluruh dunia, diantaranya Canon PIXMA iP 1300 pada Linux ada yang menyarankan menggunakan Canon iP 2200. Dan saya berusaha untuk mendownload driver printer yang saya butuhkan melalui web, setelah saya dapatkan saya coba untuk menginstallnya ke Linux saya. Dalam menginstall driver-driver pada Linux tidak seperti pada MS Windows---diperlukan jam terbang seperti pada pilot pesawat tentunya. Sejak saya berhasil mendapat driver printer yang saya butuhkan, saya mulai sedikit jatuh hati pada Linux---apalagi terdengar maraknya operasi aparat pada software bajakan. Sampai saat ini penulis sudah mengumpulkan beberapa distro Linux baik CD maupun DVD kurang-lebih sekitar 35 an jenis distro, dan telah merogoh kocek hampir sekitar Rp.600-700 ribuan.
Aplikasi yang paling sering saya gunakan saat ini adalah OpenOffice. Hal ini tak terlepas dikarenakan aktivitas saat ini lebih banyak berususan dengan pembuatan dokumen; spreadsheet; membuat presentasi dan sedikit data base. Untuk desktop environment saya menggunakan KDE. Untuk atitivitas internet saya lebih suka menggunakan Opera yang sudah tersedia ketika instal Linux. Alasan saya menyukai Opera, karena browser ini dapat digunakan sebagai email client, membuat catatan, dan melakukan download file. Jangan hanya mendengar, kata seorang filosofi namun coba dan terus cobalah. Hal ini seperti kita tahu bahwa Linux sudah banyak digunakan sebagai server otomasi di berbagai perpustakaan---tidakkah kita ingin sedikit ikut masuk untuk mendalaminya---paling tidak bagaimana menginstal Linux; bagaimana mengatur jaringan; yang jelas banyak manfaat dari pengalaman-pengalaman yang berguna bagi pustakawan lain.
Beberapa solusi, migrasi dari sebuah sistem yang satu dengan yang lain perlu pembelajaran dan pengenalan. Bagi pemula (istilah di kalangan Kelompok Pengguna Linux sebagai newbie) sementara dapat tetap menggunakan OS Microsoft Windows; kita dapat menginstal OpenOffice 2.XXX for Windows, yang bisa kita cari dengan menggunakan web browsing google---dan kita dapat mendownload secara gratis. Jika kesulitan saya akan bantu hanya dengan mengganti harga CD. Dari sinilah kita akan membiasakan dan mengenal apa yang disebut dengan perangkat lunak Open Source. Semua kebutuhan yang ada di Microsoft Office sudah tersedia di dalamnya. Gambar menu-driven OpenOffice dapat dilihat seperti di bawah ini:

OpenOffice Linux Microsoft Office
OpenOffice.org Base ---- Access
OpenOffice.org Calc ---- Excel
OpenOffice.org Draw ---- Excel (Chart Wizard)
OpenOffice.org Inpress ---- Powerpoint
OpenOffice.org Math ---- Mathematic
OpenOffice.org Writer ---- Word

PERANGKAT LUNAK UTILITI
Perangkat lunak pertama, bernama VMWare (gambar tampilan lihat lampiran) yaitu Virtual Machine yang berfungsi untuk membuat perangkat lunak yang satu berada di dalam perangkat lunak yang lain. Perangkat lunak ini layak untuk digunakan sebagai pembelajaran tanpa harus menghapus sistem yang lain. Artinya, saya tetap menggunakan operating system Microsof Windows XP---tetapi saya ingin menjalankan Linux di dalam windows, yang ketika itu saya coba menggunakan Open Suse 10.2 dengan hasil seakan-akan saya berada di operating system Linux. Dengan perangkat lunak VMWare inilah membantu kita untuk mengetahui fitur-fitur Linux yang ada dan dapat dimanfaatkan, menarik---bukan ? Meskipun Linux kita instal ke dalam Virtual tersebut, tidak akan merusak sistem windows yang sudah ada sebelumnya.
Yang kedua Cross Over Office Professional, adalah sebuah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menjalankan perangkat lunak yang berjalan di Windows ke dalam system Linux. Ketika komputer saya sudah terinstal Linux Open Suse 10.2 ---saya mencoba perangkat lunak Cross Over Office Professional saya instal ke dalam Linux sehingga Finish (sukses). Kemudian, langkah berikutnya saya coba untuk menginstal Microsoft Office Professional 2003 menggunakan bantuan Cross Over---ternyata sukses dengan sempurna. Semua fitur-fitur mulai dari Word; Excel; Power Point; dan Access semua dapat berjalan normal seperti dalam Windows. Namun ada beberapa kelemahan yang mungkin tidak berarti, antara lain karena kita menggunakan Linux maka font-font yang ada mengikuti font Linux.
Dari pembahasan tersebut di atas, ternyata kita telah dimanjakan oleh distributor Linux agar kita tidak langsung menggunakan sebelum mengenalnya---seperti pepatah mengatakan “tidak kenal pasti tidak sayang”. Kita diberikan media pembelajaran dan pengenalan, agar migrasi dari sistem yang satu ke sistem yang lain tidak mengejutkan. Masih kurangkah Linux ? Jika kita evaluasi, ada beberapa media perangkat lunak yang dapat kita gunakan untuk persiapan migrasi dari Windows ke Linux, agar kita mengenal lebih dahulu----sebelum kita gunakan. Pembelajaran pertama, yang bisa digunakan---adalah menggunakan Open Office yang kita instal Windows. Kedua, menggunakan VMWare yang dapat digunakan untuk menjalankan Linux secara virtual. Yang ketiga, bagi yang masih ingin tetap bekerja dengan menggunakan Microsoft Office, bisa menggunakan Cross Over Office Professional. Sedangkan yang terakhir, bisa menggunakan live CD/DVD. Tampilan Cross Over Office Professional setelah diinstal di Linux, seperti berikut ini :

Untuk diketahui bahwa Cross Over Office Professional yang saya gunakan termasuk “TRIAL” 30 hari, harga software ini untuk : 100-499 user umum US$52.00 dan untuk pendidikan US$36.40


PENGENALAN INSTALASI LINUX DAN APLIKASINYA
Bagian paling sulit untuk dijelaskan ke pengguna baru Linux (newbie) adalah pada saat mereka menanyakan distro yang paling bagus apa ? Distro yang paling gampang apa ? dan yang terakhir yang mirip dengan “Operating System Windows” apa ? Dalam hal ini, distro paling bagus itu relatif sekali ! Kalau menurut saya pribadi adalah Open Suse, karena sehari-hari saya pengguna Open Suse, setelah sekian kali berganti distro.
Memilih distro Linux itu ibarat memilih pasangan hidup, harus berlama-lama bercengkrama, memahami lingkungannya, terkadang harus memilih lainnya kalau tidak cocok. Tetapi kalau sudah menemukan yang cocok, kita akan cukup senang dan tergila-gila dengan distro tersebut----bahkan bisa dibilang fanatik.
Bagi para newbie baik dari teman maupun kenalan baru yang bertanya, biasanya saya anjurkan untuk mencoba dulu---kombinasi dual sistem yang berbeda. Seperti yang telah menggunakan OS Microsoft Windows misalnya, akan saya sarankan menginstal OpenOffice terlebih dahulu ke dalam sistemnya. Semua fasilitas yang ada pada OpenOffice perlu dicoba; dipelajari----diamati dan yang teramkhir disenangi. OpenOffice dapat diperoleh dengan cara mendownload atau mengganti biaya CD Rp.5000,-/keping, besaran file OpenOffice sekitar 92,9 MB. Bisa kita bandingkan berapa harga Microsoft Office dengan OpenOffice ? Dalam hal “copyright”, kita sebagai pustakawan diharapkan lebih memahami tentunya. Tetapi begitu ada tawaran yang sifatnya “free” kita masih tertidur pulas dengan tetap mempertahankan perangkat lunak bajakannya; padahal kelompok pengguna linux telah mendeklarasikan istilah copyright dengan istilah gaul (istilah yang bernada humor)----yang dikenal dengan copyleft. Selain pertanyaan masalah yang berkaitan dengan distro Linux seperti diatas---newbie biasanya menanyakan tentang spesifikasi minimum yang dibutuhkan---biasanya saya sarankan paling tidak Pentium III 700 Mhz, dengan memory fisik minimal 256 MB, dan kapasitas harddisk minimal 20 GB.
Untuk urusan hardware terkadang saya menanyakan komputernya Pentium berapa ? Kalau Pentium III/IV sampai core duo pilihan distro linux lebih leluasa---bisa menggunakan kernel SMP seperti Open Suse; Mandriva; Fedora; Sabayon; Ubuntu---dan turunannya; seperti Edubuntu; Kubuntu; Xubuntu; dan sebagainya. Namun bagaimana kalau yang dimiliki pentium classic (PI atau PII) silahkan mencari small distribution seperti Damn Small Linux (DSL); Feather; Dell Linux; atau Beatrix.
Jika newbie ingin mempunyai tampilan yang mirip, atau paling “user friendly” saya tawarkan menggunakan window manager KDE yang dapat ditemui di distro Simply Mepis; Kubuntu; Mandriva; Open Suse; dan sebagainya---tetapi ingat butuh resource cukup besar, paling tidak
memory fisik harus ditingkatkan ke level 256 MB keatas.
Logo indentitas distro, terus terang penulis pertama kali yang dilihat adalah seekor burung penguin, seperti di bawah ini :

Ternyata, dari berbagai distro Linux yang didistribusikan mempunyai logo yang bervariasi, dan cukup menarik, sehingga kita sebagai pustakawan kelompok newbie juga harus mengenal. Sebagai contoh beberapa logo yang lain seperti berikut ini :

Open Suse Mandriva Indonesia Go Open Source Ubuntu
Selain logo ditro Linux seperti tersebut di atas, masih ada puluhan distro, antara lain : Debian, RedHat, Fedora, Mepis/Simply-Mepis, PC Linux, dan lain sebagainya.

PENGENALAN PARTISI HARDDISK
Dari persiapan instalasi salah satu distro yang akan kita pilih, yang harus dipersiapkan adalah membagi hardisk, atau lebih tepatnya mempartisi hardisk, hal ini tidak seperti di “Microsoft Windows Operating System” , di Linux kita tidak akan dibodohi dengan “drive C”, “drive D” dan seterusnya, maksudnya jika kita ingin mempartisi hingga 30 partisi, yang ke 27 dinamakan drive ? Padahal kita tahu bahwa banyaknya huruf hanya sebanyak 26. Sehingga Linux memperbaiki penamaannya seperti berikut ini.
1. Apabila harddisk yang kita miliki tipe IDE/ATA maka akan diberi nama “hd?”, apabila kita punya yang serial ATA maka oleh Linux akan diberi nama “sd”.
2. Penancapan pada motherboard/mainboard, apakah dipasang secara “primary” atau “secondary”, kalau sudah apakah secara “master” atau “slave”. Primary master akan dikenali di Linux sebagai “hda”, primary slave dikenali sebagai “hdb”, secondary master sebagai “hdc” dan secondary slave akan dikenali “hdc”.
3. Setelah itu baru kita partisi, misalkan hda akan dipartisi sesuai jumlah yang diinginkan maka nama-namanya akan diberi oleh linux seperti berikut : hda1; hda2; hda3; hda4; hda5 dan seterusnya.
4. Selain partisi di atas masih ada dua jenis, yaitu partisi primary dan partisi logical.
Primary menempati urutan hda1; hda2; hda3; hda4, dan logical menempati hda5 dan
tidak terbatas.
5. Agar memiliki partisi yang tidak terbatas, maka harus ada satu partisi primary yang dijadikan logical, dan di dalam 1 logical terbatas beberapa partisi logical lainnya.
Di Linux pada dasarnya hanya butuh dua partisi yaitu root, dan partisi swap. Root adalah tempat dimana system operasi diletakkan. Untuk root, apabila menginstal live CD dibutuhkan 3-4 GB. Apa yang dimaksud dengan live CD ? Linux, sudah memikirkan bahwa agar newbie tertarik perlu dibuatkan semacam contoh berupa live CD. Dimana live CD ini dapat dijalankan tanpa harus diinstal ke dalam komputer---artinya live CD membawa kita seakan-akan sudah menginstal Linux, padahal kita masih menghidupkan CD tersebut. Pustakawan seharusnya dapat mencoba live CD berbagai distro yang ada----jika tidak mau dianggap gatek.
Adakah kurangnya Linux ? Hampir semua, yang telah mengenal tentu akan menjawab tidak. Jika masih ada yang kurang, yaitulah tantangan pustakawan----bukan hambatan. Untuk itu marilah kita buat yel disini dengan sebuah kalimat : Pustakawan siap merubah hambatan menjadi tantangan.

PENUTUP
Dari beberapa pengalaman ini, penulis berharap dapat membuat teman-teman pustakawan di seluruh tanah air untuk terbangun dari kenikmatan menggunakan perangkat-lunak bajakan---sedikit demi sedikit, marilah kita belajar bersama---berdiskusi melalui media forum Linux atau dapat menggunakan media VisiPustaka. Insya Allah kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dapat diselesaikan melalui forum ini. Syukur-syukur dari beberapa pustakawan yang sudah pengalaman berselancar dengan Linux bersedia menjadi moderator---tentu ini akan lebih menarik---dan dengan segala kerendahan hati hal ini patut kita hargai. Lebih-lebih jika VisiPustaka dapat hadir setiap bulan dengan halaman berwarna, yang salah satunya berisi tentang forum diskusi seputar pemanfaatan teknologi informasi, baik yang berbasis Windows maupun Linux, ini sangat bermanfaat sebagai media pembelajaran pustakawan khususnya----masyarakat pada umumnya, tentu itulah yang kita harapkan semua.
DAFTAR RUJUKAN :
1. http://download.openoffice.org/2.2.0/
2. http://www.vmware.com/products/ws/
3. http://www.codeweavers.com/products/download_trial/
4. http://en.opensuse.org/Download
5. http://www.mandriva.com/download
6. http://www.canonical.com/ email : marilise@canonical.com

Tidak ada komentar: