LAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
(ICT = INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY)
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi dapat meningkatkan kinerja perpustakaan dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan kredibilitas, eksistensi, dan produktivitas. Perkembangan teknologi informasi memperlihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini, seperti e-mail, e-book, e-journal, e-library, e-government, e-banking, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.
PENDAHULUAN
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.
Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-mail, e-banking, e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-book, e-journal, e-medicine, e-laboratory, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.
PENDIDIKAN BERBASIS ICT : SEBUAH TINJAUAN
Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi (TI) dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya. Teknologi informasi banyak berperan dalam bidang-bidang antara lain : Bidang pendidikan(e-education) termasuk di dalamnya perpustakaan (e-library). Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “Pendidikan tanpa sekolah (Deschooling Society)” yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan. Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya.
Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun, teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin. Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan nantinya akan bersifat “Saat itu juga” (Just on Time). Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner.
Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan “Computer-based Multimedia Communication“ (CMC) yang bersifat sinkron dan asinkron. Dari ramalan dan pandangan para cendikiawan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif. Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah:
- Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama.
- Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan- Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku.
- Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak.
Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.
Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut: (1) Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya. (2) Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya. (3) Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya. (4) Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning (5) Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database. (6) Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web. Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya.
Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware, maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi perhatian utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada “non text based material”. Di luar negeri, khususnya di negara maju, pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metoda pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Beberapa tahun yang lalu pertukaran materi dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video.
Saat ini hampir seluruh program distance learning di Amerika, Australia dan Eropa dapat juga diakses melalui internet. Studi yang dilakukan oleh Amerika, sangat mendukung dikembangkannya e-learning, menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% waktu lebih singkat, dan 30% biaya lebih murah. Bank Dunia (World bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan program Global Distance Learning Network (GDLN) yang memiliki mitra sebanyak 80 negara di dunia.
Melalui GDLN ini maka World Bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak (dari 30 menjadi 150 mahasiswa) dengan biaya 31% lebih murah. Dalam era global, penawaran beasiswa muncul di internet. Bagi sebagian besar mahasiswa di dunia, uang kuliah untuk memperoleh pendidikan yang terbaik umumnya masih dirasakan mahal. Amat disayangkan apabila ada mahasiswa yang pandai di kelasnya tidak dapat meneruskan sekolah hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah. Informasi beasiswa merupakan kunci keberhasilan dapat menolong mahasiswa yang berpotensi tersebut.
PERPUSTAKAAN BERBASIS ICT
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
a. Penerapan teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.
b. Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung keduanya.
Peranan Katalog dalam Automasi (Otomasi) Perpustakaan
Katalog adalah keterangan singkat atau wakil dari suatu dokumen. Katalog perpustakaan elektronik adalah jantung dari sebuah sistem perpustakaan yang terautomasi. Sub sistem lain seperti OPAC dan sirkulasi berinteraksi dengannya dalam menyediakan layanan automasi. Sebuah sistem katalog yang dirancang dengan baik merupakan faktor kunci keberhasilan penerapan automasi perpustakaan.
Cakupan dari Automasi Perpustakaan
· Pengadaan koleksi
· Katalogisasi, inventarisasi
· Sirkulasi, reserve, inter-library loan
· Pengelolaan penerbitan berkala
· Penyediaan katalog (OPAC)
· Pengelolaan anggota
Bagaimana mengenai Layanan Referens ?
Layanan referens tidak termasuk dalam bagian yang terintegrasi dari suatu sistem automasi perpustakaan, namun yang lebih penting adalah penyediaan teknologi informasi yang digunakan dalam layanan referens. Layanan informasi referens dikembangkan dengan menyediakan koleksi dalam bentuk digital yang dikemas dalam CD-ROM dan akses informasi ke jaringan luar (LAN, WAN, Internet)
Peran CD-ROM (Layanan Off-line)
· Mempercepat akses informasi multi media baik itu berupa abstrak, indeks, bahan full text, dalam bentuk digital tanpa mengadakan hubungan ke jaringan komputer. (CD Proquest) yaitu jurnal ilmiah yang ada di CD;
· Media back-up / cadangan data perpustakaan dan sarana koleksi referens bagi perpustakaan lain.
Peran Internet (Layanan Online)
· Untuk mengakses infrormasi multimedia dalam resource internet.
· Sarana telekomunikasi dan distribusi informasi.
· Untuk membuat homepage, penyebarluasan katalog dan informasi.
Keperluan Pengguna
Pustakawan harus dapat melayani keperluan pengguna seperti permintaan akan akses yang lebih cepat ke informasi yang diperlukan dari dalam maupun luar perpustakaan. Dengan begitu diharapkan agar para pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi sehingga mereka dapat membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan.
Apa yang harus diketahui dan dikerjakan oleh pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaannya :
· Faham akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari automasi perpustakaan (AP)
· Faham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem
· Faham akan dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi dan maintenance.
· Faham akan proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah sistem
· Faham akan dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja
Unsur-unsur Automasi Perpustakaan
Dalam sebuah sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa unsur atau syarat yang saling mendukung dan terkait satu dengan lainnya, unsur-unsur atau syarat tersebut adalah :
1. Pengguna (users)
Pengguna merupakan unsur utama dalam sebuah sistem automasi perpustakan. Dalam pembangunan sistem perpustakaan hendaknya selalu dikembangkan melalui konsultasi dengan pengguna-penggunanya yang meliputi pustakawan, staf yang nantinya sebagai operator atau teknisi serta para anggota perpustakaan. Apa misi organisasi tersebut? Apa kebutuhan informasi mereka ? Seberapa melek komputerkah mereka? Bagaimana sikap mereka ? Apakah pelatihan dibutuhkan? Itu adalah beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam mengembangkan sebuah sistem automasi perpustakaan. Automasi Perpustakaan baru bisa dikatakan baik bila memenuhi kebutuhan pengguna baik staf maupun anggota perpustakaan. Tujuan daripada sistem automasi perpustakaan adalah untuk memberikan manfaat kepada pengguna.
Konsultasikan dengan pengguna untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka. Namun perlu hati-hati terhadap penilaian keliru yang dilakukan oleh pengguna mengenai kebutuhan dan persepsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh suatu sistem komputer . Kebutuhan dapat dirincikan terlalu banyak atau terlalu sedikit dan kadang-kadang persepsi bisa juga keliru.
Staf yang bersangkutan harus dilibatkan mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan sistem. Masukan dari masing-masing staf harus dikumpulkan untuk menjamin kerjasama mereka. Tenaga-tenaga inti yang dilatih untuk menjadi operator, teknisi dan adminsitrator sistem harus diidentifikasikan dan dilatih sesuai bidang yang akan dioperasikan.
2. Perangkat Keras (Hardware)
Komputer adalah sebuah mesin yang dapat menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Pendapat lain mengatakan bahwa komputer hanya sebuah komponen fisik dari sebuah sistem komputer yang memerlukan program untuk menjalankannya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komputer adalah sebuah alat dimana kemampuanya sangat tergantung pada manusia yang mengoperasikan dan software yang digunakan.
Kecenderungan perkembangan komputer :
· Ukuran fisik mengecil dengan kemampuan yang lebih besar
· Harga terjangkau (murah)
· Kemampuan penyimpanan data berkapasitas tinggi
· Transfer pengiriman data yang lebih cepat dengan adanya jaringan
Dalam memilih perangkat keras yang pertama adalah menentukan staf yang bertanggung jawab atas pemilihan dan evaluasi hardware sebelum transaksi pembelian. Adanya staf yang bertanggung jawab adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain dan menghindari dampak buruk yang mungkin timbul. Hal lain adalah adanya dukungan teknis serta garansi produk dari vendor penyedia komputer.
3. Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak diartikan sebagai metode atau prosedur untuk mengoperasikan komputer agar sesuai dengan permintaan pemakai. Kecenderungan dari perangkat lunak sekarang mampu diaplikasikan dalam berbagai sistem operasi, mampu menjalankan lebih dari satu program dalam waktu bersamaan (multi-tasking), kemampuan mengelola data yang lebih handal, dapat dioperasikan secara bersama-sama (multi-user).
Untuk mendapatkan software kini sudah banyak tersedia baik dari luar maupun dalam negeri dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan dan harga yang bervariasi. Di perpustakaan software yang dikenal antara lain CDS/ISIS, WINISIS yang mudah didapat dan gratis freeware dari Unesco, ATHENAEUM (Australia)? atau dari beberapa perguruan tinggi sekarang telah banyak membuat dan mengembangakan sistem perpustakaannya sendiri seperti SIPUS 2000 di UGM, SIPISIS, SIMPUS di IPB, NCI BOOKMAN, SPITS, SPEKTRA. Masih banyak lagi perguruan tinggi dan institusi pengembang software yang mengembangkan SIP dengan kemampuan yang tidak kalah sip. Sistem Informasi Perpustakaan ini difungsikan untuk pekerjaan operasional perpustakaan, mulai dari pengadaan, katalogisasi, inventarisasi, keanggotaan, OPAC, pengelolaan terbitan berkala, sirkulasi, dan pekerjaan lain dalam lingkup operasi perpustakaan.
4. Network / Jaringan
Jaringan komputer telah menjadi bagian dari automasi perpustakaan karena perkembangan yang terjadi di dalam teknologi informasi sendiri serta adanya kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya bersama melalui teknologi.
Komponen perangkat keras jaringan antara lain : komputer sebagai server dan klien, Network Interface Card ( LAN Card terminal kabel (Hub), jaringan telepon atau radio, modem.
Hal yang harus diperhatikan dalam membangun jaringan komputer adalah :
Jumlah komputer serta lingkup dari jaringan (LAN, WAN)
Lokasi dari hardware : komputer, kabel, panel distribusi, dan sejenisnya
Protokol komunikasi yang digunakan
Menentukan staf yang bertanggung jawab dalam pembangunan jaringan.
Standar basis data katalog
Kerjasama antar perpustakaan secara elektronik telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang telah memungkinkan untuk itu dan didasari adanya kebutuhan untuk menggunakan sumber daya bersama. Bentuk tukar-menukar maupun penggabungan data katalog koleksi adalah suatu hal yang sudah biasa terjadi dalam perpustakaan, kerjasama dapat dilakukan jika masing-masing perpustakaan itu memiliki kesamaan dalam format penulisan data katalog data. Persoalan yang sering dihadapi dalam kerjasama tukar-menukar atau penggabungan data adalah banyaknya data yang ditulis dengan suka-suka yaitu tidak memperhatikan standar yang ada. Pekerjaan konversi data merupakan hal yang membosankan dan memakan banyak waktu. Sering data katalog dalam perpustakaan tidak menggunakan standar, hal ini banyak terjadi karena kurangnya pemahaman akan manfaat standar penulisan data. Pertemuan-pertemuan mungkin perlu sering diadakan diantara anggota-anggota jaringan perpustakaan untuk menentukan standar-standar dan prosedur-prosedur yang digunakan bersama.
Persoalan lain dalam standardisasi format penulisan data katalog adalah bahasa. Kebanyakan perpustakaan mengkoleksi materi yang menggunakan bahasa pengantar berbeda-beda. Bagaimana dengan bahasa pengantar cantuman katalog itu sendiri? Informasi judul jelas harus diisi sesuai dengan judul koleksi yang bersangkutan. Bagaimana dengan kolom subjek dan kata kunci? Haruskah diisi dengan bahasa nasional (Bahasa Indonesia untuk perpustakaan di Indonesia) atau dengan bahasa internasional (Bahasa Inggris)? Lebih jauh lagi, bagaimana kita memberi nama pada kolom-kolom isian, dengan Bahasa Indonesia (judul, pengarang, penerbit, dsb.) atau bahasa Inggris (title, author, publisher etc.)? Bagaimana dengan koleksi yang berpengantar bahasa-bahasa lain seperti Arab, China atau Korea ?
METADATA
Metada merupakan istilah baru dan bukan merupakan konsep baru di dunia pengelola informasi. Perpustakaan sudah lama menciptakan metadata dalam bentuk pengkatalokan koleksi .
Definisi metadata sangat beragam ada yang mengatakan “data tentang data” atau “informasi tentang informasi”, pengertian dari beberapa definisi tersebut bahwa metadata adalah sebagai bentuk pengindentifikasian, penjelasan suatu data, atau diartikan sebagai struktur dari sebuah data. Dicontohkan metadata dari katalog buku terdiri dari : judul, pengarang, penerbit, subyek dan sebagainya. Metada yang biasa digunakan di perpustakaan adalah Marc dan Dublin Core.
INDOMARC.
Indonesia of Machine Readable Cataloging (MARC) merupakan salah satu hasil dan juga sekaligus salah satu syarat penulisan katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC ternyata sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara lain turut mengembangkan format MARC sejenis bagi kepentingan nasionalnya masing-masing.
Format INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2709 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya. Informasi bibliografi biasanya mencakup pengarang, judul, subyek, catatan, data penerbitan dan deskripsi fisik.
Indomarc menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen dan dapat mendeskripsikan dengan baik kebanyakan objek fisik sumber pengetahuan, seperti jenis monograf (BK), manuskrip (AM), dan terbitan berseri (SE) termasuk; Buku Pamflet, Lembar tercetak, Atlas, Skripsi, tesis dan disertasi (baik diterbitkan ataupun tidak), dan Jurnal Buku Langka.
DUBLIN CORE
Dublin Core merupakan salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Gagasan membuat standar baru agaknya dipengaruhi oleh rasa kurang puas dengan standar MARC yang dianggap terlalu banyak unsurnya dan beberapa istilah yang hanya dimengerti oleh pustakawan serta kurang bisa digunakan untuk sumber informasi dalam web. Elemen Dublin Core dan MARC intinya bisa saling dikonversi.
Metadata Dublin Core memiliki beberapa kekhususan sebagai berikut:
a. Memiliki deskripsi yang sangat sederhana
b. Semantik atau arti kata yang mudah dikenali secara umum.
c. Expandable memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Dublin Core terdiri dari 15 unsur yaitu :
Title : judul dari sumber informasi
Creator : pencipta sumber informasi
Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
Date : tanggal penciptaan sumber informasi
Type : jenis sumber informasi, novel, laporan, peta dan sebagainya
Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasian sumber informasi. Contoh URL, alamat situs
Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
Rights : pemilik hak cipta sumber informasi
MEMANFAATKAN AKSES INTERNET SECARA LEBIH OPTIMAL
Media ini tentu tidak asing lagi bagi Pustakawan, namun penulis mencoba untuk sedikit memberikan tinjauan baik secara realita maupun berbagi pengalaman yang mungkin dapat dimanfaatkan.
Penggunaan e-mail (Electronic Mail)
Banyak teman-teman Pustakawan yang telah memiliki e-mail, dalam realita belum dapat dikatakan cukup menggembirakan. Karena berdasarkan pengalaman ketika penulis mencoba mengirim beberapa e-mail tidak terbalaskan, padahal maksud dari email tersebut diharapkan menjadi media komunikasi yang relatif cepat dan murah dibanding media lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi jika ada Pustakawan yang tersedia fasilitas internet hanya mementingkan browsing dan tidak memiliki e-mail ? Browsing bukannya tidak penting, namun e-mail bagi seorang pustakawan lebih utama. Berbagai forum diskusi “mailing list”, peserta wajib memiliki e-mail yang selalu aktip. Beberapa vendor perangkat lunak “trial version” maupun “beta version” yang dapat didownload secara gratis, biasanya nomor registernya akan dikirim melalui e-mail yang harus diisi dalam form isian ketika kita men- download perangkat lunak yang kita inginkan, misal VMware Workstation. Selain itu, ini juga berlaku ketika penulis mendownload Winisis (Original) dari situs UNESCO, register dikirim ke e-mail agar Winisis dapat diinstal ke dalam komputer----tanpa register tersebut maka Winisis tidak bisa diinstal ke dalam komputer.
Pentingnya e-mail bagi pustakawan, berfungsi untuk menjalin kerja sama antar pustakawan di berbagai perpustakaan untuk meningkatkan jasa layanan penelusuran informasi oleh pengguna perpustakaan suatu subyek yang kebetulan di perpustakaan kita sendiri tidak memiliki (tersedia).
Beberapa fasilitas e-mail gratis yang dapat gunakan antara lain :
http://www.google.com/mail http://mail.telkom.net/ http://www.hotmail.com
http://mail.yahoo.com/ http://mail.lycos.com/ http://usa.mail.com
Mekanisme download file berkapasitas besar
Adakalanya kita mengendaki mendownload file yang berkapasitas besar, sebagai contoh sistem operasi Linux yang besaran filenya minimal sebesar besaran CD sekitar 697 MB. Dalam rangka menunjang kegiatan ini, memerlukan perangkat lunak yang penulis sebut sebagai “utiliti”. Antara lain : 1. Download Accelator Plus (contoh tampilan lihat lampiran); 2. µTorrent; dan 3. Getright. Selama ini penulis hanya menggunakan dua “utiliti” pertama dan kedua saja. Kedua utiliti tersebut bermanfaat agar file yang kita download berhasil secara sempurna. Kelebihan penggunaan perangkat lunak “utiliti”, jika sewaktu-waktu koneksi terputus ketika kita sedang mendownload, maka perangkat lunak tersebut mampu melanjutkan (resume) tanpa melakukan pengulangan proses dari awal. Perlu dicatat, bahwa tidak semua file dapat didownload dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, tetapi dapat didownload menggunakan fasilitas yang ada di windows sendiri. Namun memiliki kelemahan. Yang pertama jika koneksi terputus akibat listrik mati atau provider yang kita gunakan, maka kita harus melakukan proses ulang. Kelemahan kedua, informasi “file download complete” berdasarkan pengalaman tidak seluruhnya sempurna dapat diinstal, biasanya ketika kita menginstal program hasil download gagal, maka akan diperoleh informasi “file corrupt”.
Perangkat lunak utiliti “µTorrent”, hanya dapat digunakan untuk mendownload file khusus yang memiliki ekstensi toorent, salah satu contoh misal : PCLinuxOS 2007.torrent. Kemampuan perangkat lunak ini sama dengan yang dimiliki Download Accelator Plus, yang mana ketika koneksi terputus proses dapat dilanjutkan seketika itu atau ditunda hari-hari berikutnya sesuai kehendak kita. Instaler “µTorrent” berbasis windows, dapat diperoleh secara gratis dan besaran file hanya sebesar 173 KB. (Contoh tampilan lihat lampiran).
Mesin Pencari (Search Engine)
Untuk memudahkan pencarian ada beberapa mesin pencari yang dapat kita gunakan, antara lain melalui URL yahoo.com (yahoo.co.id); dan google.com (google.co.id). Selama ini penulis menggunakan mesin pencari yang kedua, yaitu google.com dengan alasan bahwa akses halaman depan lebih cepat dibanding dengan yahoo.com. Google.com ketika diakses tidak me-loading gambar (iklan) seperti pada yahoo.com. Masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, dalam hal ini penulis tidak akan menjelaskan mengingat quota halaman yang harus dipatuhi.
Kedua-duanya dalam hal browsing memiliki kecerdasan yang baik, selain sebagai mesin pencari, web ini mempunyai fasilitas e-mail gratis yang dapat kita gunakan, masing-masing menyediakan space (ruang) cukup besar. Peluang ini, dapat kita gunakan selain sebagai media arsip, juga fasilitas back-up data yang cukup aman dibanding dengan media backup data kita sendiri.
Blogger dan Forum Diskusi
Blog seperti pada WordPress.com, adalah ajang untuk berdikusi pustakawan, disini dirancang untuk menyampaikan pendapat atau komentar secara bebas dari apa yang ditulis oleh pembuatnya. Web ini dapat diperoleh secara gratis dan cukup mudah digunakan karena disain sudah tersedia tinggal mengisi isi “content” yang diminati, begitu juga hosting dapat digunakan tanpa harus membayar. Selain itu kita juga dapat menggunakan blog pada situs blogger.com menu-menu disediakan dalam bahasa Indonesia. Blog sendiri diartikan sebagai media penyampaian hasil pemikiran yang dipublikasikan.
Fungsi sebuah blog dapat menampilkan hasil pemikiran pembuatnya sendiri di web. Blog adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan dan berbagi hal-hal yang dianggap menarik---baik itu komentar politik, sebuah diary pribadi, atau link ke situs web yang ingin diingat. Banyak orang menggunakan blog hanya untuk mengorganisasikan pikiran mereka, sementara yang lain membuat blog yang membuat banyak pengaruh dengan ribuan pemirsa di seluruh dunia. Jurnalis dan amatir menggunakan blog untuk menerbitkan berita terkini, sementara jurnalis personal membeberkan pemikiran terdalam mereka. Berdasarkan pengalaman hampir semua blog yang pernah penulis akses di internet, sementara ini cukup positip dapat digunakan untuk berdikusi memberikan komentar (comments) hasil pemikiran pembaca lain, berupa tulisan berupa komentar, sanggahan, kritik atau saran dan lain sebagainya.
PENUTUP
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, yang pertama ketersediaan internet di Perpustakaan tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pengguna perpustakaan perguruan tinggi semata seperti mahasiswa; dosen; karyawan; saja. Yang kedua, layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, berfungsi meningkatkan jasa layanan kepada masyarakat pengguna perpustakaan lebih efektip; optimal; cepat dan akurat. Yang ketiga, bagi perpustakaan yang telah menerapkan layanan berbasis ICT akan lebih meningkatkan kredibilitas dan eksistensi dari perpustakaan itu sendiri tentunya.
Bagi perpustakaan perguruan tinggi yang sekiranya belum mampu melaksanakan layanan jasa ICT secara “online”, dapat memulai dengan menggunakan layanan secara “offline”, seperti layanan informasi “fulltext” dalam bentuk CD-ROM. Yang mana, muatan informasi dapat diseleksi, dipilih, diciptakan, ditentukan, dan diolah berdasarkan kebutuhan dari pengguna, tidak hanya tertuju pada pengguna internalnya saja namun juga pengguna eksternal lain yang membutuhkan. Dalam keseharian, pustakawan atau staf yang bekerja di perpustakaan sebaiknya lebih berperan aktif mengikuti perkembangan dalam bidang-bidang kepustakawanan; pustakawan; dan perpustakaan agar wawasan dapat bertambah----yang akhirnya bermuara bertambahnya pengetahuan, makna dan pentingnya sebuah profesi pustakawan dimana kita bekerja.
Dari kajian singkat di atas dapat dilihat juga bahwa layanan perpustakaan berbasis TI dapat diterapkan di semua bagian perpustakaan. Itu semua tergantung bagaimana dan apa kebutuhan pengguna dan juga perpustakaan. Proses pengembangan perpustakaan berbasis TI ini harus memperhatikan kepentingan pengguna dan juga kepentingan institusi / organisasi induk yang menaunginya. Tak kalah pentingnya adalah faktor kemampuan finansial dari perpustakaan / lembaga induk untuk menerapkan TI dalam layanan perpustakaan ini. Karena TI memang bukan barang “murah” dan perlu investasi yang cukup “mahal”. Namun demikian, penggunaan TI dalam bidang layanan perpustakaan ini memang sudah merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan lagi, sehingga perpustakaan perlu melakukan kajian prioritas kebutuhan TI untuk perpustakaannya. Semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Bell, Lori and Tom Peters. 2005 “Digital Library Services for All: Innovative Technology Open Doors to Print-Impaired Patrons”. American Libraries, September, pp. 46-49.
Bertot, John Carlo. 2003 “World Libraries on the Information Superhighway: Internet-based Library Services”. Library Trends, Vol. 52, No. 2, Fall 2003, pp. 209-227. Florida: University of Illinois.
Buckland, Michael. 1999. “Library Services in Theory and Context”. 2nd Edition. Berkeley: Berkeley University. Diakses melalui alamat situs :
http://sunsite.berkeley.edu/Literature/Library/Services/index.html
Casado, Margaret. 2001. “Delivering Library Services to Remote Students”. Computers in Libraries. Apr, Vol. 21, Issue 4, p32. Information Today Inc.
Enright. 1972. “New Media and the Library in Education”. London: Clive Bingley.
Fahmi, Ismail, 2000. “Konsep, Desain dan Implementasi Perpustakaan Elektronik: Integrasi Perpustakaan Terotomasi dan Perpustakaan Digital untuk Perpustakaan Nasional di Indonesia”. Jakarta.
UNESCO dan PUSNAS RI, 1999. “Technology Information & Communication” di Yogyakarta.
------------------- o0o --------------------
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar