SUDUT PANDANG PRAKTIS : DALAM UPAYA MENGADOBSI
BERBAGAI DISIPLIN ILMU UNTUK LEBIH MENGEMBANGKAN
KEPUSTAKAWANAN INDONESIA
ABSTRAK
Dengan masuknya teknologi informasi di Perpustakaan, mau tidak mau Pustakawan dituntut dapat menggunakan dengan lebih efektip dan optimal dalam menunjang kegiatan-kegiatan kepustakawanan baik individu maupun kelompok dari suatu jaringan lokal perpustakaan, maupun yang terkoneksi di internet. Fasilitas internet yang ada di lingkungan perpustakaan tidak lagi hanya sekedar sarana penelusuran informasi bagi pengguna perpustakaan saja. Akan tetapi lebih dari itu, pustakawan diharapkan mampu menggunakan untuk keperluan yang lebih komprehensip dalam dunia kepustakawanan Indonesia. Pengaruh otonomi daerah terhadap keberadaan perpustakaan secara kualitas ada yang lebih baik tetapi ada yang lebih buruk dari sebelumnya. Monitoring dan evaluasi program pendidikan; penyetaraan (istilah baru alih jalur) pustakawan perlu mendapat perhatian khusus meskipun pembakuan kurikulum sudah dilakukan, terutama sertifikasi pengajar harus juga dibakukan agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya untuk memenuhi persyaratan sebagai pustakawan saja tetapi juga berkualitas. Ikatan Pustakawan Indonesia bukan milik Pustakawan yang bekerja perpustakaan di lingkungan pemerintah saja. Organisasi profesi ini, milik semua komponen bangsa yang bekerja di perpustakaan baik formal maupun informal; bergelar maupun tidak bergelar; pemerintah maupun swasta; bahkan peminat/pengguna perpustakaan yang interest pun bisa jadi. Ini berbeda dengan ikatan profesi lain misalnya ikatan sarjana. Untuk merealisasikan diperlukan tindakan nyata, dengan memasukkan unsur swasta (pengusaha; wiraswasta) agar menduduki jabatan puncak organisasi IPI. Manajemen teknologi informasi perlu dilakukan dengan baik, mulai dari aplikasi sederhana hingga tingkat kesulitan yang tinggi. Kehadiran system operasi “open source” yang lebih dikenal dengan Linux, pustakawan harus segera bertindak dengan meminjam istilah “menjemput bola”, agar dapat meningkatkan kredibilitas pustakawan yang selama ini mempunyai paradigma di mata masyarakat yang kurang menyenangkan. Berbagai pengakuan fungsional pustakawan dan apresiasi perguruan tinggi swasta yang diberikan kepada pustakawan yang telah bekerja sebagai pustakawan dan yang telah menghasilkan karya, patut kita hargai dan tauladani semuanya. Dengan demikian, maju mundurnya kepustakawanan Indonesia merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa yang berprofesi sebagai pustakawan maupun tidak, yang ikut serta memikirkan pembelajaran masyarakat yang terus-menerus dilakukan untuk lebih meningkatkan taraf kehidupan bangsa agar cerdas dan berkualitas, serta lebih merata dari Sabang hingga Merauke.
PENDAHULUAN
Kepustakawanan berasal dari kata “Librarianships”, secara luas mengartikan ketrampilan, kualifikasi, status, kehormatan dan keanggotaan pekerja secara profesional yang bekerja pada suatu perpustakaan. Sedangkan sebutan "kepustakawanan Indonesia" dapat dideskripsikan kualifikasi, status, kehormatan, keterampilan, dan keanggotaan para pustakawan di seluruh Indonesia, yang bekerja baik secara formal maupun informal, baik dengan bergelar maupun tanpa gelar, dibidang perpustakaan di seluruh Indonesia. Pengertian kepustakawanan secara luas juga dapat diartikan sebuah institusi. Sebagai institusi maka kepustakawanan Indonesia memiliki kekhususan atau ciri-ciri khas tersendiri, dibandingkan dengan kepustakawanan di negara lain.
Sebagai sebuah institusi oleh Putu Laxman Pendit meminjam teori sosiologi Anthony Giddens, yakni Teori Strukturasi (structuration theory). Menjelaskan bahwa sebuah institusi merupakan struktur sosial yang berlaku terus-menerus dan meluas di sebuah masyarakat dalam waktu yang cukup lama. Kalau kita mengatakan "kepustakawanan" adalah sebuah institusi, maka seharusnya---sesuai teori Giddens--- adalah sebuah struktur sosial. Dengan kata lain pula, "Kepustakawanan Indonesia" adalah keilmuan dan struktur sosial yang berlaku terus-menerus, berkembang dan meluas di masyarakat Indonesia.
KEPUSTAKAWANAN DAN PENDIDIKAN
Di awal bulan Maret 2006, sekelompok pengelola pendidikan pustakawan dari 13 perguruan tinggi di Indonesia berkumpul di Jakarta untuk membicarakan masa depan mereka. Ada di dalam pikiran mereka adalah nasib keseluruhan program pendidikan di bidang ini dan nasib para lulusan yang akan mengemban gelar sarjana atau diploma bidang perpustakaan.
Dari perkembangan penyelenggaraan pendidikan kepustakawanan di Indonesia, dan minat masyarakat terhadap jurusan ini juga cukup menggembirakan. Ikatan Sarjana bidang inipun ikut mendeklarasikan sebagai model atau wadahnya. Kurangkah dengan wadah IPI yang hidup, matipun tidak, terutama di daerah atau cabang-cabang ? Kepustakawanan lebih komplek dari sekedar komunitas pada umunya, selain keilmuan pustakawan juga sebagai struktur sosial yang berlaku terus-menerus sepanjang masa.
Yang perlu dicermati dalam hal ini, adalah bagaimana meningkatkan kualitas kepustakawanan khususnya di Indonesia. Banyak forum diskusi berkisar bagaimana angka kredit dan tunjangan dapat meningkat, teknologi informasi sebagai media terus-menerus didiskusikan seperti tak berkesudahan, yang akhirnya menorehkan label pada pustakawan seakan masih mencari jati diri. Diskusi tentang tersebut bukannya tidak penting, namun alangkah baiknya jika dibarengi dengan diskusi-diskusi praktis.
Matrikulasi bidang kesarjaan yang semestinya berlaku hanya untuk melanjutkan pendidikan berbeda bidang misal S1 ke S2, berlaku sebagai sertifikasi kepustakawanan di Indonesia? Sungguh memprihatinkan sekali, program penyetaraan sarjana digelar dimana-mana tanpa melihat kualifikasi pengajarnya, lebih ironisnya lagi lulusan yang telah menyandang program penyetaraan diikut sertakan sebagai tenaga pengajar pada program penyetaraan. Lain lagi ada program khusus S1 dan S2 yang dibuka kuliah Sabtu dan Minggu ?
Kemudian ada jurusan Ilmu Perpustakaan baru di salah satu universitas, akreditasi pinjam nama dan gelar yang berkualifikasi hanya untuk meloloskan nilai A atau B? Yang jelas benar-benar terjadi “industrialisasi pendidikan”----kemana kepustakawanan Indonesia akan di bawa? Agar tidak terjadi stagnasi pemikiran yang lebih kita prioritaskan maka tidak perlu kita perdebatkan terus, yang penting marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita yang ada selama ini ke depannya---bagaimana pembelajaran masyarakat dapat meningkat, yang akhirnya dapat meningkatkan kehidupan bangsa dan negara.
KEPUSTAKAWANAN INDONESIA DALAM PRAKTEK
Berkembangnya kepustakawanan Indonesia tergantung bagaimana menyikapinya baik dari sisi pustakawanan sendiri maupun dari dukungan institusinya dimana ia bertugas. Kedua sisi tersebut saling terkait antar yang satu dengan yang lain. Dalam praktek, hal ini tidak akan berjalan tanpa dukungan dari masing-masing sisi. Akibatnya perkembangan kepustakawanan dari lembaga yang satu dengan yang lain terjadi ketimpangan : baik dari sisi kualitas, status, ketrampilan maupun kehormatannya. Kasus ini tidak saja terjadi pada perpustakaan di lingkungan swasta, namun juga terjadi pada perpustakaan milik pemerintah. Pengaruh dari sistem otonomi kampus dan/atau daerah membuat perpustakaan, ada yang menjadi baik, sebaliknya ada yang menjadi kurang baik (kualitas menurun dari sebelumnya). Banyak pejabat yang tidak memiliki jabatan struktural dari asalnya (yang belum tahu tentang kepustakawanan), ditempatkan sebagai pejabat struktural sebagai Kepala Perpustakaan. Yang biasa bekerja serba protokoler, maka dengan kebiasaan tersebut merasa kewibawaan menurun jika tanpa ada staf protokol yang dapat mengatur bisa bertemu dan tidaknya tamu-tamu yang berkunjung. Sungguh sangat meprihatinkan sekali, dimana kampanye membebaskan feodalisme terjadi dimana-mana, tetapi birokrat masih menginginkannya. Dari sudut pandang yang demikian, mustahil kepustakawanan Indonesia dapat dikembangkan secara merata. Belum lagi jika subyektivitas sebagai ukuran kemampuan staf untuk menempati posisi berdasarkan “suka tidak suka”. Kepustakawanan dari sisi profesi dapat tumbuh berkembang pada seseorang tergantung pada faktor posisi, dan lingkungan dimana ia bertugas. Namun faktor yang demikian bukan merupakan alasan yang mengakibatkan profesionalisme dan kepustakawanan tidak dapat berkembang----jika ia dapat menyikapi dengan sebuah kalimat yang berbunyi “Pustakawan siap merubah rintangan menjadi sebuah tantangan”.
Perubahan paradigma lama perlu dilakukan, bahwa kita bekerja tidak hanya pada perpustakaan dimana kita bekerja, namun juga perpustakaan lain yang memerlukan. Dengan menggunakan konsep ini, mekanisme kerja tentu berbeda dengan lazimnya kita bekerja di perpustakaan pada umumnya. Karena kepustakawanan---merupakan “ilmu”, maka dengan keilmuan serta kemampuan tertentu yang dimiliki dapat disampaikan melalui media forum-forum diskusi; artikel-artikel majalah; melalui blog-blog internet yang relevan dengan kepustakawanan; serta mekanisme lain yang sekiranya dapat disumbangkan untuk perkembangan kepustakawanan Indonesia.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan akan membawa harga, dan bukan sebaliknya harga membuat kemampuan pada seseorang. Disini kita tidak perlu kawatir bahwa sebagai pustakawan dibayar jika bekerja----dan tidak dibayar jika kita tidak bekerja. Dari pendapat tersebut dapat dibuat sebuah konsep baru bahwa orang yang lebih dahulu tahu akan memiliki nilai berupa harga. Banyak sisi dan celah lain yang dapat kita gali, dengan merubah paradigma yang selama ini kita gunakan yaitu : tidak hanya bekerja sebagai pengelola perpustakaan, dokumentasi dan informasi----namun juga sebagai pengguna ahli dalam bidang teknologi informasi. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya---sebagai seorang pustakawan dengan profesional paradigma lama atau ingin meningkat sebagai pengguna ahli teknologi informasi, yang mana kedua-duanya bermanfaat untuk meningkatkan kepanditan kepustakawanan kita.. Dengan mengoptimalkan kemauan dan pembelajaran kita dalam menggunakan teknologi informasi, maka diharapkan sedikit demi sedikit akan terjadi perubahan paradigma---tidak hanya sekedar sebagai pengguna biasa namun sebagai pengguna ahli, yang berguna untuk mengelola perpustakaan, dokumentasi dan informasi maupun fungsi lain yang diperlukan untuk pembelajaran masyarakat pada umumnya.
Jika "ilmu" (science) dinyatakan oleh Putu Laxman Pendit, lebih sering dikaitkan dengan penelitian dan pencarian kebenaran, maka disiplin (discipline) dikaitkan dengan himpunan pengetahuan dan peraturan ilmiah yang akan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kamus Webster's, disiplin diartikan sebagai "a body of knowledge, practice, and a system of rules". Baik "ilmu" maupun "disiplin" bertemu di kampus dan terwujud dalam bentuk 3P (pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat). Huruf "p" yang terakhir (pengabdian kepada masyarakat), menyebabkan sebuah disiplin berpengaruh dalam kemajuan (maupun kemunduran!) masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, di dalam setiap masyarakat, sebuah disiplin akan menentukan struktur, isi, dan implikasi politik dari sebuah himpunan pengetahuan (body of knowledge). Dalam dunia moderen, maka disiplin menjadi semakin kompleks, sebab masyarakat moderen semakin banyak membutuhkan solusi bagi persoalan-persoalan hidup mereka. Jika "ilmu" terkesan lebih mengawang-awang karena mencari kebenaran sejati, maka disiplin lebih sering dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis sebuah masyarakat. Semakin banyak dan beragam kebutuhan masyarakat, semakin banyak muncul disiplin yang berbeda-beda. Mungkin saja disiplin-disiplin itu memiliki titik-awal dan tujuan yang sama, dan mungkin hanya berbeda dalam cara masing-masing memandang persoalan (subject matter) yang sama. Seringkali berbagai disiplin itu bekerjasama untuk menyelesaikan satu persoalan di masyarakatnya. Maka dikenal berbagai istilah, seperti:
· Interdisiplin - yaitu interaksi antara dua atau lebih disiplin (baik yag berkaitan maupun yang tidak) melalui kerjasama dalam pendidikan dan penelitian, dengan tujuan menyamakan pikiran, konsep, metode, atau tawaran solusi.
· Multidisiplin - yaitu upaya kelembagaan yang menghimpun dua atau lebih disiplin untuk membentuk modul-modul pengajaran, penelitian, atau praktik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
· Transdisiplin - yaitu kesepakatan untuk membetuk aksioma atau rumus bersama sebagai upaya mempertemukan berbagai disiplin yang sebelumnya tidak nampak berkaitan, sehingga ada kesatuan pandangan dalam menjawab persoalan masyarakat.
Dilihat dari segi ini, maka kegiatan-kegiatan pengajaran, penelitian, mapun pengabdian-masyarakat yang berkaitan dengan bidang perpustakaan dan informasi dapat dikatakan sebagai interdisiplin, multidisiplin, maupun transdisiplin. Di dalam kegiatan-kegiatan bidang perpustakaan dan informasi, berkembanglah hubungan interaksi, penggabungan, kesepakatan, dan penghimpunan berbagai hasil penelitian yang datang dari berbagai disiplin. Paling kentara dalam interaksi berbagai disiplin di bidang ini adalah antara disiplin komunikasi (terutama aspek kognitifnya), sosial (terutama sosiologi), kebudayaan (terutama filsafat dan linguistik), matematik (dan logika positivis), elektronik (terutama setelah komputerisasi), ekonomi (terutama manajemen), dan pendidikan. Bidang perpustakaan dan informasi tentu saja bukan satu-satunya bidang yang menjadi ajang pertemuan berbagai disiplin.
MANAJEMEN TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN
Sudah banyak pustakawan menulis tentang pentingnya teknologi informasi di Perpustakaan, baik yang digunakan untuk menyelesaikan administrasi perkantoran maupun proses kepustakaan lainnya. Dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk memberikan beberapa metode bagaimana mengelola dan mengoptimalkan teknologi informasi yang telah digunakan agar lebih berdayaguna dan berhasilguna. Metode yang akan penulis bahas seputar pengelolaan dan pemanfaatan perangkat lunak baik sebagai sistem operasi; aplikasi maupun perangkat lunak utiliti. Di berbagai perpustakaan di Indonesia penggunaan komputer sudah tidak asing lagi, namun dari sisi pengelolaan tidak semua pustakawan memiliki kemampuan—hal ini terjadi bahkan mencegah virus dan virus itupun tidak tahu sama sekali. Sebenarnya hal ini bisa dimaklumi, bahwa pustakawan bukanlah seorang yang ahli dalam mengelola teknologi informasi, namun dengan pernyataan Putu Laxman Pendit di atas, saat ini bukannya tidak mungkin pustakawan mempunyai kemampuan lebih, melakukan kerjasama dengan orang yang mempunyai kemampuan mengelola teknologi informasi maupun “ilmu” yang ditulis ke dalam buku bacaan atau tulisan-tulisan ilmiah maupun berupa pengalaman yang bermanfaat seperti bahasan berikut ini.
PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI WINDOWS
Hampir 100 % perpustakaan di Indonesia menggunakan perangkat lunak sistem operasi berbasis windows mulai dari 95/98/ME/NT/2000/XP sampai produk terakhir yang diberi nama Windows Vista. Dari distribusi sebuah sistem operasi biasanya terjadi kekurangsempurnaan yang disebut dengan “bug”. Oleh sebab itu pihak Microsoft telah melakukan perbaikan “bug” sistem operasi : Windows 2000, dengan mendistribusikan produk yang telah diperbaiki berupa “instaler upgrade” yang disebut “service pack 4”, sedangkan pada Windows XP telah didistribusikan “service pack 2”. Service pack ini sebenarnya hanya diberikan kepada pemakai yang telah membeli produk windows dengan lisensi atau secara legal. Berbicara mengenai perawatan, seperti halnya pada perangkat keras, perangkat lunak juga memerlukan perawatan secara berkala, agar sistem operasi dapat berjalan secara normal. Perawatan sistem operasi Windows mulai dari 95 sampai dengan Vista kecuali Windows NT telah disediakan langkah-kangkah berupa menu-menu perintah untuk melakukan Disk Cleanup dengan memilih menu Start dan klik; selanjutnya klik All Program, kemudian sorot dengan kursor menu Accessories; sorot lagi System Tools, sorot dan pilih lagi Disk Cleanup, maka akan ada kotak yang berisi Select Drive dengan default (C) dan sorot dan klik OK, maka akan muncul kotak dialog yang harus kita sorot dan klik kotak-kotak kecil sebelah kiri dan lakukan hanya pada file yang mempunyai angka besaran tertentu, kecuali yang 0 KB tidak perlu, agar komputer dapat membersihkan file-file temporer yang ada dalam partisi harddisk C. Dan ulangi mulai dari langkah awal hingga kotak dialog Select Drive D, (E), atau (F) tergantung partisi yang dibuat saat instalasi awal. Setelah proses ini berakhir, maka proses berikutnya adalah melakukan Disk Defragmenter (pengaturan file). Pilih menu Start dan klik, sorot dan klik All Program, sorot dan klik Accessories, sorot dan klik lagi System Tools, sorot dan klik Disk Defragmenter, ketika muncul kotak dialog sorot (C) lakukan Analyze terlebih dahulu hingga muncul kotak dialog kedua pilih dan klik Defragment, tunggu hingga proses selesai. Lama waktu proses Defragmenter ini selain dipengaruhi oleh kecepatan processor komputer yang digunakan, juga pernah atau belum; sering atau tidaknya komputer dilakukan proses ini. Jika komputer sudah lama digunakan dan tidak pernah dilakukan proses Defragmenter, berdasarkan pengamalan bisa mencapai 3-5 jam bahkan bisa lebih jika banyak program yang telah diinstal dan digunakan dalam komputer tersebut. Hal ini tidak boleh dianggap remeh, jika kita menginginkan komputer yang kita gunakan dapat bekerja secara normal.
Sistem operasi windows ME (Melinium), sebenarnya sudah cukup baik terhadap pengenalan komponen yang ada di dalam Mainboard atau Motherboard. Hampir mirip pengenalan yang berlaku pada sistem operasi Windows XP. Pengenalan tersebut berupa komponen-komponen seperti VGA card; Sound Card; Lan Card; termasuk penggunaan flashdisk secara otomatis---begitu ditancapkan pada USB maka komputer yang kita gunakan sudah dapat mengenali dan dapat digunakan. Untuk kegiatan administrasi perkantoran perpustakaan, jenis perangkat lunak sistem operasi ini sudah cukup memadai. Oleh karena itu ketika ditawarkan pengadaan perangkat lunak sistem operasi yang berlisensi, jika kegiatan dengan menggunakan sistem operasi ini dirasa cukup, maka sebaiknya pemilihan perangkat lunak ini patut diperhitungkan, mengingat harga lisensi dimungkinkan murah dibandingkan dengan sistem operasi produk baru seperti Windows Vista misalnya. Pustakawan harus cukup cerdas dalam menentukan seleksi tidak saja dalam pengadaan koleksi buku-buku perpustakaan tetapi juga dalam hal pemilihan yang terkait dengan penggunaan teknologi informasi khususnya.
Perangkat lunak pangkalan data CDS/ISIS maupun Winisis, lebih mudah digunakan atau lebih kompatibel di sistem operasi Windows ME dibanding dengan sistem operasi di atasnya. Meskipun dengan cara tertentu Winisis juga dapat dijalankan di Windows XP. Akan tetapi ketika link ruas data ke file PDF dalam rangka mengaplikasikan perpustakaan digital dengan menggunakan Windows XP berdasarkan pengalaman link tersebut tidak dapat berfungsi seperti ketika menggunakan Windows 98/ME.
VIRUS KOMPUTER DAN PENCEGAHANNYA
Sudah kita ketahui bersama, bahwa sistem operasi Windows sangat rentan terkena virus. Banyak teman-teman kita mengatakan bahwa sudah diberi anti virus masih juga kena? Virus dibuat dan diciptakan oleh pembuatnya, dan terus dilakukan “update” dan ditingkatkan kualitasnya baik sistem kerjanya, maupun penularannya. Cara pencegahan virus paling ekstrem, cara pertama adalah tidak menghubungkan komputer yang kita gunakan pada jaringan komputer atau internet, yang kedua tidak memasukkan disket; CD; flashdisk yang pernah digunakan di komputer lain. Dengan cara pencegahan di atas, tentu tidak kita inginkan. Lantas bagaimana? Selama ini penulis gunakan dua anti virus, dimana dalam setiap minggu dapat diperbarui “file update” dua kali, dengan mendownload melalui internet, anti virus tersebut adalah Norton Anti Virus, terdiri dari satu file sebesar 20.23 MB. Alamat link web atau situs langsung Norton Antri Virus tersebut adalah seperti berikut ini.
http://securityresponse.symantec.com/avcenter/download/pages/US-N95.html
Filename
Creation Date
Release Date
File Size
20070802-020-x86.exe
August 02, 2007
August 2, 2007
20.23 MB
MD5: 28B5128C372758DEF1F3F432EECBD453 all MD5 hashes
Yang satu lagi adalah anti virus : AVG, terdiri dari empat file yang dapat didownload secara rutin (seminggu) dua kali dan gratis seperti tersebut di bawah.
http://free.grisoft.com/doc/24/lng/us/tpl/v5
AVI: 269.11.2
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 1, 2007
5.7 MB
AVI: 269.11.2min. AVI: 269.11.0
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 1, 2007
22 kB
AVI: 269.11.2min. AVI: 269.0.0
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 1, 2007
346.8 kB
IAVI: / 933
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 2, 2007
11.3 MB
Perangkat lunak AVG selain dapat didownload dapat dilakukan “update” langsung secara on line, dengan cara mensetting pada “Update Manager” pilih “Setting” kemudian pilih menggunakan “Proxy” bagi mereka yang komputernya terhubung dengan jaringan (LAN) atau dengan “Dial up” bagi mereka yang koneksi internetnya menggunakan MODEM. Versi yang digunakan penulis saat ini adalah AVG75free, besaran file instaler ini hanya sebesar 20.907 KB. Kedua anti virus tersebut di atas dapat di download secara gratis, seminggu dua kali kita harus rutin meng-update. Selama penulis menggunakan kedua anti virus tersebut meskipun komputer terkoneksi di jaringan lokal (LAN) dan internet ternyata cukup aman.
Beberapa cara lain untuk mencegah virus menular pada komputer, bagi Pustakawan pengguna e-mail dianjurkan jangan membuka e-mail yang nama pengirim asalnya tidak dikenal, apalagi mendownload ke dalam komputernya----biasanya salah satu penyebaran virus melalui cara ini. Berhati-hati juga pada penyebaran virus dari program-program instaler berupa file-file yang berekstensi EXE atau COM. Waspada terhadap flashdisk yang telah digunakan di berbagai komputer lain. Bagaimana dengan penggunaan CD/DVD, meskipun CD/DVD merupakan media yang memiliki karakter “read only”, dalam praktek masih dikatakan rawan terhadap penyebaran virus, ketika CD/DVD tersebut berisi data berupa file atau program instaler sudah terkena virus.
Ada jenis virus yang penyebarannya melalui “sharing” program aplikasi atau data, pada jaringan lokal komputer. Begitu mudahnya windows dikoneksikan kedalam sistem jaringan maka juga rawan terhadap penyebaran virusnya---akibatnya jika salah satu komputer terkena virus biasanya akan menular ke seluruh jaringan yang telah terhubung.
PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI OPEN SOURCE
Kehadiran perangkat lunak sistem operasi “open source” yang lebih dikenal dengan LINUX, pustakawan diharapkan segera bersiap-siap untuk menerima kehadirannya. Perangkat lunak ini dapat diperoleh secara gratis, meskipun ini tidak berlaku untuk semuanya. Ada LINUX yang harus menggunakan registrasi dengan pembelian (berlisensi), namun juga tersedia dalam versi yang gratis untuk digunakan, bahkan “Source Code” dapat dirubah-rubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing penggunanya. Kelebihan pengetahuan masyarakat pengguna di bidang perangkat-lunak sistem ini masih belum sebanyak pada sistem operasi basis Windows. Sehingga dengan demikian, pustakawan berpotensi menjadi agen pelatihan yang dapat dilaksanakan dengan bekerjasama dengan komunitas-komunitas pengguna Linux, di Indonesia bernama Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI), selain penyedia literatur atau buku-buku yang relevan dengan bidang ini----yang telah menjadi tanggung jawabnya sebagai pustakawan.
Linux memiliki kehandalan ketika dijadikan sistem operasi “server” pada jaringan lokal, dan selama ini masih jauh dari gangguan virus komputer. Dikarenakan Linux ditrisbusikan dari berbagai distro, tidak seperti pada sistem operasi berbasis Windows. Pembuat virus akan berpikir keuntungan dan kerugian dari sisi penciptaannya karena penularan pada komputer masyarakat lambat berkembang, dikarenakan basis sistem operasi tidak lagi di monopoli dari satu perusahaan tertentu. Jenis-jenis perangkat lunak open source (Linux) serta bahasan yang terkait tidak dijelaskan dalam forum ini, mengingat keterbatasan “quota space” yang diberikan kepada penulis.
MEMANFAATKAN AKSES INTERNET SECARA LEBIH OPTIMAL
Media ini tentu tidak asing lagi bagi Pustakawan, namun penulis mencoba untuk sedikit memberikan tinjauan baik secara realita maupun berbagi pengalaman yang mungkin dapat dimanfaatkan.
Penggunaan e-mail (Electronic Mail)
Banyak teman-teman Pustakawan yang telah memiliki e-mail, dalam realita belum dapat dikatakan cukup menggembirakan. Karena berdasarkan pengalaman ketika penulis mencoba mengirim beberapa e-mail tidak terbalaskan, padahal maksud dari email tersebut diharapkan menjadi media komunikasi yang relatif cepat dan murah dibanding media lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi jika ada Pustakawan yang tersedia fasilitas internet hanya mementingkan browsing dan tidak memiliki e-mail ? Browsing bukannya tidak penting, namun e-mail bagi seorang pustakawan lebih utama. Berbagai forum diskusi “mailing list”, peserta wajib memiliki e-mail yang selalu aktip. Beberapa vendor perangkat lunak “trial version” maupun “beta version” yang dapat didownload secara gratis, biasanya nomor registernya akan dikirim melalui e-mail yang harus diisi dalam form isian ketika kita men- download perangkat lunak yang kita inginkan, misal Vmware Workstation. Selain itu, ini juga berlaku ketika penulis mendownload Winisis (Original) dari situs UNESCO, register dikirim ke e-mail agar Winisis dapat diinstal ke dalam komputer----tanpa register tersebut maka Winisis tidak bisa diinstal ke dalam komputer.
Beberapa fasilitas e-mail gratis yang dapat gunakan antara lain :
http://www.google.com/mail http://mail.telkom.net/ http://www.hotmail.com
http://mail.yahoo.com/ http://mail.lycos.com/ http://usa.mail.com
Mekanisme download file berkapasitas besar
Adakalanya kita mengendaki mendownload file yang berkapasitas besar, sebagai contoh sistem operasi Linux yang besaran filenya minimal sebesar besaran CD sekitar 697 MB. Dalam rangka menunjang kegiatan ini, memerlukan perangkat lunak yang penulis sebut sebagai “utiliti”. Antara lain : 1. Download Accelator Plus (contoh tampilan lihat lampiran); 2. µTorrent; dan 3. Getright. Selama ini penulis hanya menggunakan dua “utiliti” pertama dan kedua saja. Kedua utiliti tersebut bermanfaat agar file yang kita download berhasil secara sempurna. Kelebihan penggunaan perangkat lunak “utiliti”, jika sewaktu-waktu koneksi terputus ketika kita sedang mendownload, maka perangkat lunak tersebut mampu melanjutkan (resume) tanpa melakukan pengulangan proses dari awal. Perlu dicatat, bahwa tidak semua file dapat didownload dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, tetapi dapat didownload menggunakan fasilitas yang ada di windows sendiri. Namun memiliki kelemahan. Yang pertama jika koneksi terputus akibat listrik mati atau provider yang kita gunakan, maka kita harus melakukan proses ulang. Kelemahan kedua, informasi “file download complete” berdasarkan pengalaman tidak seluruhnya sempurna dapat diinstal, biasanya ketika kita menginstal program hasil download gagal, maka akan diperoleh informasi “file corrupt”.
Perangkat lunak utiliti “µTorrent”, hanya dapat digunakan untuk mendownload file khusus yang memiliki ekstensi toorent, salah satu contoh misal : PCLinuxOS 2007.torrent. Kemampuan perangkat lunak ini sama dengan yang dimiliki Download Accelator Plus, yang mana ketika koneksi terputus proses dapat dilanjutkan seketika itu atau ditunda hari-hari berikutnya sesuai kehendak kita. Instaler “µTorrent” berbasis windows, dapat diperoleh secara gratis dan besaran file hanya sebesar 173 KB. (Contoh tampilan lihat lampiran).
Mesin Pencari (Search Engine)
Untuk memudahkan pencarian ada beberapa mesin pencari yang dapat kita gunakan, antara lain melalui URL yahoo.com (yahoo.co.id); dan google.com (google.co.id). Selama ini penulis menggunakan mesin pencari yang kedua, yaitu google.com dengan alasan bahwa akses halaman depan lebih cepat dibanding dengan yahoo.com. Google.com ketika diakses tidak me-loading gambar (iklan) seperti pada yahoo.com. Masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, dalam hal ini penulis tidak akan menjelaskan mengingat quota halaman yang harus dipatuhi.
Kedua-duanya dalam hal browsing memiliki kecerdasan yang baik, selain sebagai mesin pencari, web ini mempunyai fasilitas e-mail gratis yang dapat kita gunakan, masing-masing menyediakan space (ruang) cukup besar. Peluang ini, dapat kita gunakan selain sebagai media arsip juga fasilitas back-up data yang cukup aman dibanding dengan media backup data kita sendiri.
Blogger dan Forum Diskusi
Blog seperti pada WordPress.com, adalah ajang untuk berdikusi pustakawan, disini dirancang untuk menyampaikan pendapat atau komentar secara bebas dari apa yang ditulis oleh pembuatnya. Web ini dapat diperoleh secara gratis dan cukup mudah digunakan karena disain sudah tersedia tinggal mengisi isi “content” yang diminati, begitu juga hosting dapat digunakan tanpa harus membayar. Selain itu kita juga dapat menggunakan blog pada situs blogger.com menu-menu disediakan dalam bahasa Indonesia. Blog sendiri diartikan sebagai media penyampaian hasil pemikiran yang dipublikasikan.
Fungsi sebuah blog dapat menampilkan hasil pemikiran pembuatnya sendiri di web. Blog adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan dan berbagi hal-hal yang dianggap menarik---baik itu komentar politik, sebuah diary pribadi, atau link ke situs web yang ingin diingat. Banyak orang menggunakan blog hanya untuk mengorganisasikan pikiran mereka, sementara yang lain membuat blog yang membuat banyak pengaruh dengan ribuan pemirsa di seluruh dunia. Jurnalis dan amatir menggunakan blog untuk menerbitkan berita terkini, sementara jurnalis personal membeberkan pemikiran terdalam mereka. Berdasarkan pengalaman hampir semua blog yang pernah penulis akses di internet, sementara ini cukup positip dapat digunakan untuk belajar memberikan komentar (comments), hasil pemikiran pembaca lain berupa tulisan berupa komentar, sanggahan, kritik atau saran dan lain sebagainya.
PROFESI DAN ORGANISASI PUSTAKAWAN
Sudah hampir kurang lebih 34 tahun organisasi profesi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) didirikan berdasarkan kesepakatan Kongres Pustakawan Seluruh Indonesia tanggal 5-7 Juli 1973 di Ciawi, Bogor. Dari sejak berdirinya hingga kini, organisasi profesi ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi upaya pembinaan keprofesian, antara lain melalui berbagai kegiatan seminar, rapat kerja, dan kongres yang diselenggarakan secara berkelanjutan. Selain itu, juga melalui berbagai penerbitan, baik buku maupun jurnal, yang menjadi wahana komunikasi antar pustakawan di negeri ini. Salah satu bentuk kontribusi IPI bagi pengembangan kepustakawanan di Indonesia adalah kerja sama dan dukungan kepada Perpustakaan Nasional dalam mengegolkan ketentuan jabatan fungsional pustakawan dengan terbitnya Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 18/1988 tanggal 28 Februari 1988. Jika kepustakawanan dideskripsikan sebagai kualifikasi, status, kehormatan, keterampilan, dan keanggotaan para pustakawan di seluruh Indonesia, yang bekerja baik secara formal maupun informal, baik dengan bergelar maupun tanpa gelar, di bidang perpustakaan di seluruh Indonesia. Demikian pula, Ikatan Pustakawan Indonesia tidak memisahkan pustakawan yang bekerja di dalam lingkungan instansi pemerintah maupun swasta. Namun kesan sementara ini IPI identik dengan pustakawan yang bekerja di instansi pemerintah. Profesi tidak dipengaruhi oleh status formal dan informal, pemerintah dan non pemerintah, bahkan pekerja kios komik sekalipun jika dapat memberikan kontribusinya dalam gemar membaca masyarakat bukannya tidak mungkin sebuah profesi yang profesional.
Profesi memerlukan profesionalisme yang terus perlu ditingkatkan dan dikembangkan melalui ikatan yang telah ada yaitu IPI, agar dalam menjalankan tugasnya dapat berjalan lebih efisien, efektip serta optimal. Ikatan Pustakawan Indonesia bukan hanya sekedar sebuah organisasi yang hanya sekedar memikirkan nasib dari para anggotanya saja. Namun lebih dari itu, tanggung jawab moral terhadap pembelajaran bangsa menjadi fokus utama dalam hal ini. Sehingga IPI, mau tidak mau terus berbenah diri baik sistem, organisasi, serta utamanya paradigma selama ini. Jika perlu, dimungkinkan menempatkan posisi dalam organisasi puncak orang-orang yang bergerak dalam bidang swasta. Hal ini, cukup beralasan bahwa tanggung-jawab keberhasilan kepustakawanan di Indonesia dalam pembelajaran masyarakat tidak semata-mata tugas pustakawan tetapi juga seluruh komponen bangsa lainnya. Selama ini, di berbagai perpustakaan sekolah hingga perguruan tinggi yang diselenggarakan swasta, rata-rata mereka masih menganggap bahwa organisasi IPI adalah organisasi kalangan pustakawan yang bekerja pada instansi pemerintah.
Pernyataan ini tentu tidak benar, ada Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, yang menerapkan status kepegawaiannya sebagai fungsional pustakawan sama dengan pustakawan Perguruan Tinggi Negeri, tidak jauh berbeda dalam syarat kenaikan pangkat dan kenaikan tunjangan jabatan bahkan besarnya tunjangan jabatannya. Perguruan Tinggi Swasta lain, memberikan apresiasi yang berbeda kepada seluruh Pustakawannya denga bentuk nilai nominal Rp.150.000,- per karya tulis yang berhasil di muat di berbagai media baik terbitan kampus maupun di luar kampus. Apresiasi tersebut langsung diberikan oleh intansi induknya bukan sekedar dari unit perpustakaannya, yang menarik dari sisi ini adalah institusi tidak memandang apakah jurnal atau buku yang diterbitkan mendapat honorarium dari penerbit sebagai penulis atau tidak, hak pustakawan diberlakukan sama. Kedua kondisi yang demikian belum merata, dan diberlakukan pada lingkungan perpustakaan swasta yang lain. Dengan demikian, penulis berharap agar penerapan fungsional pustakawan maupun pemberian apresiasi tersebut dapat diberlakukan dan dibakukan secara lebih merata. Tidak hanya, di lingkungan perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi swasta seperti tersebut di atas, tetapi juga pada perpustakaan-perpustakaan khusus yang berada di berbagai perusahaan swasta tentunya. Melalui forum ini pula, penulis masih sedikit prihatin kegiatan organisasi IPI terutama di daerah masih jauh dari yang diharapkan. Untuk itu, marilah kita benahi dan kita tingkatkan bersama baik dari sisi kuantias maupun kualitas organisasinya agar bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan negara.
PENUTUP
Dari uraian tersebut di atas, penulis berharap dapat dimanfaatkan sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan khususnya kepustakawanan Indonesia, serta pengembangan sistem pembelajaran masyarakat yang berkualitas pada umumnya. Pustakawan hendaknya tidak saja mampu mengelola perpustakaan saja. Selain dari itu, pustakawan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan yang semula dari pengguna teknologi informasi biasa, menjadi pengguna ahli teknologi informasi. Yang mana dalam keahlian ini, sangat berpotensi dan diperlukan untuk meningkatkan kredibilitas pustakawan, yang dampak akhirnya bermuara pada pengurangan atau bahkan menghilangkan sama sekali paradigma lama pada masyarakat, bahwa perpustakaan terkesan sebagai tempat pembuangan karyawan yang kurang/tidak produktif, dari unit atau bagian di lingkungan instansi asal atau sebelumnya.
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pusat yang berkedudukan di ibu kota Negara, hendaknya terus memonitor dan mengevaluasi esistensi keanggotaan IPI daerah dan cabang-cabang di seluruh Indonesia, agar keberadaannya benar-benar berkembang seperti yang diharapkan. Laporan triwulan atau tengah tahunan kegiatan IPI di daerah/cabang terus dipantau dan diagendakan, agar sewaktu-waktu terjadi stagnasi atau kevakuman---dapat dibantu IPI Pusat dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat pelatihan-pelatihan termasuk : forum diskusi, seminar; lokakarya; dan/atau workshop tentang kepustakawanan; teknologi informasi dan bidang-bidang yang relevan lainnya. Pernyataan : stagnan dan kevakuman organisasi IPI daerah bahkan cabang ini benar-benar telah terjadi, sungguh dilematis--bukan ?
DAFTAR RUJUKAN
Creth, S. 1999. “The Electronic Library: Stouching Toward The Future or Creating A New Information Environment”. Follett Lecture Series.
http://www.ukoin.ac.uk/follett/creth/paper.html (24/7/1999)
Palmer, Robert B. 1997. “The internet: Technology and Trends”. Speech Delivered to
The Spring Internet World 97, Los Angeles, California, 12 March.
Rowley, Jennifer. 1998. The Electronic Library, 4th ed. London: Library Association Publishing.
Sriregar, A. Ridwan, 1996. Internet dan Implikasinya. Medan. Perpustakaan USU.
Suwarso, Tjuk. 2007. “Membangun Mediator Pembelajaran Masyarakat Dengan Mengoptimalkan Potensi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia”.
http://free.grisoft.com/doc/24/lng/us/tpl/v5
http://kepustakawanan.blogspot.com/2006/05/ilmu-dan-disiplin.html
http://securityresponse.symantec.com/avcenter/download/pages/US-N95.html
http://www.pnri.go.id
Senin, 29 Oktober 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar