Senin, 29 Oktober 2007

OPTIMALKAN INTERNET

SUDUT PANDANG PRAKTIS : DALAM UPAYA MENGADOBSI
BERBAGAI DISIPLIN ILMU UNTUK LEBIH MENGEMBANGKAN
KEPUSTAKAWANAN INDONESIA


ABSTRAK

Dengan masuknya teknologi informasi di Perpustakaan, mau tidak mau Pustakawan dituntut dapat menggunakan dengan lebih efektip dan optimal dalam menunjang kegiatan-kegiatan kepustakawanan baik individu maupun kelompok dari suatu jaringan lokal perpustakaan, maupun yang terkoneksi di internet. Fasilitas internet yang ada di lingkungan perpustakaan tidak lagi hanya sekedar sarana penelusuran informasi bagi pengguna perpustakaan saja. Akan tetapi lebih dari itu, pustakawan diharapkan mampu menggunakan untuk keperluan yang lebih komprehensip dalam dunia kepustakawanan Indonesia. Pengaruh otonomi daerah terhadap keberadaan perpustakaan secara kualitas ada yang lebih baik tetapi ada yang lebih buruk dari sebelumnya. Monitoring dan evaluasi program pendidikan; penyetaraan (istilah baru alih jalur) pustakawan perlu mendapat perhatian khusus meskipun pembakuan kurikulum sudah dilakukan, terutama sertifikasi pengajar harus juga dibakukan agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya untuk memenuhi persyaratan sebagai pustakawan saja tetapi juga berkualitas. Ikatan Pustakawan Indonesia bukan milik Pustakawan yang bekerja perpustakaan di lingkungan pemerintah saja. Organisasi profesi ini, milik semua komponen bangsa yang bekerja di perpustakaan baik formal maupun informal; bergelar maupun tidak bergelar; pemerintah maupun swasta; bahkan peminat/pengguna perpustakaan yang interest pun bisa jadi. Ini berbeda dengan ikatan profesi lain misalnya ikatan sarjana. Untuk merealisasikan diperlukan tindakan nyata, dengan memasukkan unsur swasta (pengusaha; wiraswasta) agar menduduki jabatan puncak organisasi IPI. Manajemen teknologi informasi perlu dilakukan dengan baik, mulai dari aplikasi sederhana hingga tingkat kesulitan yang tinggi. Kehadiran system operasi “open source” yang lebih dikenal dengan Linux, pustakawan harus segera bertindak dengan meminjam istilah “menjemput bola”, agar dapat meningkatkan kredibilitas pustakawan yang selama ini mempunyai paradigma di mata masyarakat yang kurang menyenangkan. Berbagai pengakuan fungsional pustakawan dan apresiasi perguruan tinggi swasta yang diberikan kepada pustakawan yang telah bekerja sebagai pustakawan dan yang telah menghasilkan karya, patut kita hargai dan tauladani semuanya. Dengan demikian, maju mundurnya kepustakawanan Indonesia merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa yang berprofesi sebagai pustakawan maupun tidak, yang ikut serta memikirkan pembelajaran masyarakat yang terus-menerus dilakukan untuk lebih meningkatkan taraf kehidupan bangsa agar cerdas dan berkualitas, serta lebih merata dari Sabang hingga Merauke.

PENDAHULUAN
Kepustakawanan berasal dari kata “Librarianships”, secara luas mengartikan ketrampilan, kualifikasi, status, kehormatan dan keanggotaan pekerja secara profesional yang bekerja pada suatu perpustakaan. Sedangkan sebutan "kepustakawanan Indonesia" dapat dideskripsikan kualifikasi, status, kehormatan, keterampilan, dan keanggotaan para pustakawan di seluruh Indonesia, yang bekerja baik secara formal maupun informal, baik dengan bergelar maupun tanpa gelar, dibidang perpustakaan di seluruh Indonesia. Pengertian kepustakawanan secara luas juga dapat diartikan sebuah institusi. Sebagai institusi maka kepustakawanan Indonesia memiliki kekhususan atau ciri-ciri khas tersendiri, dibandingkan dengan kepustakawanan di negara lain.

Sebagai sebuah institusi oleh Putu Laxman Pendit meminjam teori sosiologi Anthony Giddens, yakni Teori Strukturasi (structuration theory). Menjelaskan bahwa sebuah institusi merupakan struktur sosial yang berlaku terus-menerus dan meluas di sebuah masyarakat dalam waktu yang cukup lama. Kalau kita mengatakan "kepustakawanan" adalah sebuah institusi, maka seharusnya---sesuai teori Giddens--- adalah sebuah struktur sosial. Dengan kata lain pula, "Kepustakawanan Indonesia" adalah keilmuan dan struktur sosial yang berlaku terus-menerus, berkembang dan meluas di masyarakat Indonesia.

KEPUSTAKAWANAN DAN PENDIDIKAN
Di awal bulan Maret 2006, sekelompok pengelola pendidikan pustakawan dari 13 perguruan tinggi di Indonesia berkumpul di Jakarta untuk membicarakan masa depan mereka. Ada di dalam pikiran mereka adalah nasib keseluruhan program pendidikan di bidang ini dan nasib para lulusan yang akan mengemban gelar sarjana atau diploma bidang perpustakaan.
Dari perkembangan penyelenggaraan pendidikan kepustakawanan di Indonesia, dan minat masyarakat terhadap jurusan ini juga cukup menggembirakan. Ikatan Sarjana bidang inipun ikut mendeklarasikan sebagai model atau wadahnya. Kurangkah dengan wadah IPI yang hidup, matipun tidak, terutama di daerah atau cabang-cabang ? Kepustakawanan lebih komplek dari sekedar komunitas pada umunya, selain keilmuan pustakawan juga sebagai struktur sosial yang berlaku terus-menerus sepanjang masa.
Yang perlu dicermati dalam hal ini, adalah bagaimana meningkatkan kualitas kepustakawanan khususnya di Indonesia. Banyak forum diskusi berkisar bagaimana angka kredit dan tunjangan dapat meningkat, teknologi informasi sebagai media terus-menerus didiskusikan seperti tak berkesudahan, yang akhirnya menorehkan label pada pustakawan seakan masih mencari jati diri. Diskusi tentang tersebut bukannya tidak penting, namun alangkah baiknya jika dibarengi dengan diskusi-diskusi praktis.
Matrikulasi bidang kesarjaan yang semestinya berlaku hanya untuk melanjutkan pendidikan berbeda bidang misal S1 ke S2, berlaku sebagai sertifikasi kepustakawanan di Indonesia? Sungguh memprihatinkan sekali, program penyetaraan sarjana digelar dimana-mana tanpa melihat kualifikasi pengajarnya, lebih ironisnya lagi lulusan yang telah menyandang program penyetaraan diikut sertakan sebagai tenaga pengajar pada program penyetaraan. Lain lagi ada program khusus S1 dan S2 yang dibuka kuliah Sabtu dan Minggu ?
Kemudian ada jurusan Ilmu Perpustakaan baru di salah satu universitas, akreditasi pinjam nama dan gelar yang berkualifikasi hanya untuk meloloskan nilai A atau B? Yang jelas benar-benar terjadi “industrialisasi pendidikan”----kemana kepustakawanan Indonesia akan di bawa? Agar tidak terjadi stagnasi pemikiran yang lebih kita prioritaskan maka tidak perlu kita perdebatkan terus, yang penting marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita yang ada selama ini ke depannya---bagaimana pembelajaran masyarakat dapat meningkat, yang akhirnya dapat meningkatkan kehidupan bangsa dan negara.

KEPUSTAKAWANAN INDONESIA DALAM PRAKTEK
Berkembangnya kepustakawanan Indonesia tergantung bagaimana menyikapinya baik dari sisi pustakawanan sendiri maupun dari dukungan institusinya dimana ia bertugas. Kedua sisi tersebut saling terkait antar yang satu dengan yang lain. Dalam praktek, hal ini tidak akan berjalan tanpa dukungan dari masing-masing sisi. Akibatnya perkembangan kepustakawanan dari lembaga yang satu dengan yang lain terjadi ketimpangan : baik dari sisi kualitas, status, ketrampilan maupun kehormatannya. Kasus ini tidak saja terjadi pada perpustakaan di lingkungan swasta, namun juga terjadi pada perpustakaan milik pemerintah. Pengaruh dari sistem otonomi kampus dan/atau daerah membuat perpustakaan, ada yang menjadi baik, sebaliknya ada yang menjadi kurang baik (kualitas menurun dari sebelumnya). Banyak pejabat yang tidak memiliki jabatan struktural dari asalnya (yang belum tahu tentang kepustakawanan), ditempatkan sebagai pejabat struktural sebagai Kepala Perpustakaan. Yang biasa bekerja serba protokoler, maka dengan kebiasaan tersebut merasa kewibawaan menurun jika tanpa ada staf protokol yang dapat mengatur bisa bertemu dan tidaknya tamu-tamu yang berkunjung. Sungguh sangat meprihatinkan sekali, dimana kampanye membebaskan feodalisme terjadi dimana-mana, tetapi birokrat masih menginginkannya. Dari sudut pandang yang demikian, mustahil kepustakawanan Indonesia dapat dikembangkan secara merata. Belum lagi jika subyektivitas sebagai ukuran kemampuan staf untuk menempati posisi berdasarkan “suka tidak suka”. Kepustakawanan dari sisi profesi dapat tumbuh berkembang pada seseorang tergantung pada faktor posisi, dan lingkungan dimana ia bertugas. Namun faktor yang demikian bukan merupakan alasan yang mengakibatkan profesionalisme dan kepustakawanan tidak dapat berkembang----jika ia dapat menyikapi dengan sebuah kalimat yang berbunyi “Pustakawan siap merubah rintangan menjadi sebuah tantangan”.
Perubahan paradigma lama perlu dilakukan, bahwa kita bekerja tidak hanya pada perpustakaan dimana kita bekerja, namun juga perpustakaan lain yang memerlukan. Dengan menggunakan konsep ini, mekanisme kerja tentu berbeda dengan lazimnya kita bekerja di perpustakaan pada umumnya. Karena kepustakawanan---merupakan “ilmu”, maka dengan keilmuan serta kemampuan tertentu yang dimiliki dapat disampaikan melalui media forum-forum diskusi; artikel-artikel majalah; melalui blog-blog internet yang relevan dengan kepustakawanan; serta mekanisme lain yang sekiranya dapat disumbangkan untuk perkembangan kepustakawanan Indonesia.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan akan membawa harga, dan bukan sebaliknya harga membuat kemampuan pada seseorang. Disini kita tidak perlu kawatir bahwa sebagai pustakawan dibayar jika bekerja----dan tidak dibayar jika kita tidak bekerja. Dari pendapat tersebut dapat dibuat sebuah konsep baru bahwa orang yang lebih dahulu tahu akan memiliki nilai berupa harga. Banyak sisi dan celah lain yang dapat kita gali, dengan merubah paradigma yang selama ini kita gunakan yaitu : tidak hanya bekerja sebagai pengelola perpustakaan, dokumentasi dan informasi----namun juga sebagai pengguna ahli dalam bidang teknologi informasi. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya---sebagai seorang pustakawan dengan profesional paradigma lama atau ingin meningkat sebagai pengguna ahli teknologi informasi, yang mana kedua-duanya bermanfaat untuk meningkatkan kepanditan kepustakawanan kita.. Dengan mengoptimalkan kemauan dan pembelajaran kita dalam menggunakan teknologi informasi, maka diharapkan sedikit demi sedikit akan terjadi perubahan paradigma---tidak hanya sekedar sebagai pengguna biasa namun sebagai pengguna ahli, yang berguna untuk mengelola perpustakaan, dokumentasi dan informasi maupun fungsi lain yang diperlukan untuk pembelajaran masyarakat pada umumnya.
Jika "ilmu" (science) dinyatakan oleh Putu Laxman Pendit, lebih sering dikaitkan dengan penelitian dan pencarian kebenaran, maka disiplin (discipline) dikaitkan dengan himpunan pengetahuan dan peraturan ilmiah yang akan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kamus Webster's, disiplin diartikan sebagai "a body of knowledge, practice, and a system of rules". Baik "ilmu" maupun "disiplin" bertemu di kampus dan terwujud dalam bentuk 3P (pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat). Huruf "p" yang terakhir (pengabdian kepada masyarakat), menyebabkan sebuah disiplin berpengaruh dalam kemajuan (maupun kemunduran!) masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, di dalam setiap masyarakat, sebuah disiplin akan menentukan struktur, isi, dan implikasi politik dari sebuah himpunan pengetahuan (body of knowledge). Dalam dunia moderen, maka disiplin menjadi semakin kompleks, sebab masyarakat moderen semakin banyak membutuhkan solusi bagi persoalan-persoalan hidup mereka. Jika "ilmu" terkesan lebih mengawang-awang karena mencari kebenaran sejati, maka disiplin lebih sering dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis sebuah masyarakat. Semakin banyak dan beragam kebutuhan masyarakat, semakin banyak muncul disiplin yang berbeda-beda. Mungkin saja disiplin-disiplin itu memiliki titik-awal dan tujuan yang sama, dan mungkin hanya berbeda dalam cara masing-masing memandang persoalan (subject matter) yang sama. Seringkali berbagai disiplin itu bekerjasama untuk menyelesaikan satu persoalan di masyarakatnya. Maka dikenal berbagai istilah, seperti:
· Interdisiplin - yaitu interaksi antara dua atau lebih disiplin (baik yag berkaitan maupun yang tidak) melalui kerjasama dalam pendidikan dan penelitian, dengan tujuan menyamakan pikiran, konsep, metode, atau tawaran solusi.
· Multidisiplin - yaitu upaya kelembagaan yang menghimpun dua atau lebih disiplin untuk membentuk modul-modul pengajaran, penelitian, atau praktik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
· Transdisiplin - yaitu kesepakatan untuk membetuk aksioma atau rumus bersama sebagai upaya mempertemukan berbagai disiplin yang sebelumnya tidak nampak berkaitan, sehingga ada kesatuan pandangan dalam menjawab persoalan masyarakat.
Dilihat dari segi ini, maka kegiatan-kegiatan pengajaran, penelitian, mapun pengabdian-masyarakat yang berkaitan dengan bidang perpustakaan dan informasi dapat dikatakan sebagai interdisiplin, multidisiplin, maupun transdisiplin. Di dalam kegiatan-kegiatan bidang perpustakaan dan informasi, berkembanglah hubungan interaksi, penggabungan, kesepakatan, dan penghimpunan berbagai hasil penelitian yang datang dari berbagai disiplin. Paling kentara dalam interaksi berbagai disiplin di bidang ini adalah antara disiplin komunikasi (terutama aspek kognitifnya), sosial (terutama sosiologi), kebudayaan (terutama filsafat dan linguistik), matematik (dan logika positivis), elektronik (terutama setelah komputerisasi), ekonomi (terutama manajemen), dan pendidikan. Bidang perpustakaan dan informasi tentu saja bukan satu-satunya bidang yang menjadi ajang pertemuan berbagai disiplin.

MANAJEMEN TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN
Sudah banyak pustakawan menulis tentang pentingnya teknologi informasi di Perpustakaan, baik yang digunakan untuk menyelesaikan administrasi perkantoran maupun proses kepustakaan lainnya. Dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk memberikan beberapa metode bagaimana mengelola dan mengoptimalkan teknologi informasi yang telah digunakan agar lebih berdayaguna dan berhasilguna. Metode yang akan penulis bahas seputar pengelolaan dan pemanfaatan perangkat lunak baik sebagai sistem operasi; aplikasi maupun perangkat lunak utiliti. Di berbagai perpustakaan di Indonesia penggunaan komputer sudah tidak asing lagi, namun dari sisi pengelolaan tidak semua pustakawan memiliki kemampuan—hal ini terjadi bahkan mencegah virus dan virus itupun tidak tahu sama sekali. Sebenarnya hal ini bisa dimaklumi, bahwa pustakawan bukanlah seorang yang ahli dalam mengelola teknologi informasi, namun dengan pernyataan Putu Laxman Pendit di atas, saat ini bukannya tidak mungkin pustakawan mempunyai kemampuan lebih, melakukan kerjasama dengan orang yang mempunyai kemampuan mengelola teknologi informasi maupun “ilmu” yang ditulis ke dalam buku bacaan atau tulisan-tulisan ilmiah maupun berupa pengalaman yang bermanfaat seperti bahasan berikut ini.

PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI WINDOWS
Hampir 100 % perpustakaan di Indonesia menggunakan perangkat lunak sistem operasi berbasis windows mulai dari 95/98/ME/NT/2000/XP sampai produk terakhir yang diberi nama Windows Vista. Dari distribusi sebuah sistem operasi biasanya terjadi kekurangsempurnaan yang disebut dengan “bug”. Oleh sebab itu pihak Microsoft telah melakukan perbaikan “bug” sistem operasi : Windows 2000, dengan mendistribusikan produk yang telah diperbaiki berupa “instaler upgrade” yang disebut “service pack 4”, sedangkan pada Windows XP telah didistribusikan “service pack 2”. Service pack ini sebenarnya hanya diberikan kepada pemakai yang telah membeli produk windows dengan lisensi atau secara legal. Berbicara mengenai perawatan, seperti halnya pada perangkat keras, perangkat lunak juga memerlukan perawatan secara berkala, agar sistem operasi dapat berjalan secara normal. Perawatan sistem operasi Windows mulai dari 95 sampai dengan Vista kecuali Windows NT telah disediakan langkah-kangkah berupa menu-menu perintah untuk melakukan Disk Cleanup dengan memilih menu Start dan klik; selanjutnya klik All Program, kemudian sorot dengan kursor menu Accessories; sorot lagi System Tools, sorot dan pilih lagi Disk Cleanup, maka akan ada kotak yang berisi Select Drive dengan default (C) dan sorot dan klik OK, maka akan muncul kotak dialog yang harus kita sorot dan klik kotak-kotak kecil sebelah kiri dan lakukan hanya pada file yang mempunyai angka besaran tertentu, kecuali yang 0 KB tidak perlu, agar komputer dapat membersihkan file-file temporer yang ada dalam partisi harddisk C. Dan ulangi mulai dari langkah awal hingga kotak dialog Select Drive D, (E), atau (F) tergantung partisi yang dibuat saat instalasi awal. Setelah proses ini berakhir, maka proses berikutnya adalah melakukan Disk Defragmenter (pengaturan file). Pilih menu Start dan klik, sorot dan klik All Program, sorot dan klik Accessories, sorot dan klik lagi System Tools, sorot dan klik Disk Defragmenter, ketika muncul kotak dialog sorot (C) lakukan Analyze terlebih dahulu hingga muncul kotak dialog kedua pilih dan klik Defragment, tunggu hingga proses selesai. Lama waktu proses Defragmenter ini selain dipengaruhi oleh kecepatan processor komputer yang digunakan, juga pernah atau belum; sering atau tidaknya komputer dilakukan proses ini. Jika komputer sudah lama digunakan dan tidak pernah dilakukan proses Defragmenter, berdasarkan pengamalan bisa mencapai 3-5 jam bahkan bisa lebih jika banyak program yang telah diinstal dan digunakan dalam komputer tersebut. Hal ini tidak boleh dianggap remeh, jika kita menginginkan komputer yang kita gunakan dapat bekerja secara normal.
Sistem operasi windows ME (Melinium), sebenarnya sudah cukup baik terhadap pengenalan komponen yang ada di dalam Mainboard atau Motherboard. Hampir mirip pengenalan yang berlaku pada sistem operasi Windows XP. Pengenalan tersebut berupa komponen-komponen seperti VGA card; Sound Card; Lan Card; termasuk penggunaan flashdisk secara otomatis---begitu ditancapkan pada USB maka komputer yang kita gunakan sudah dapat mengenali dan dapat digunakan. Untuk kegiatan administrasi perkantoran perpustakaan, jenis perangkat lunak sistem operasi ini sudah cukup memadai. Oleh karena itu ketika ditawarkan pengadaan perangkat lunak sistem operasi yang berlisensi, jika kegiatan dengan menggunakan sistem operasi ini dirasa cukup, maka sebaiknya pemilihan perangkat lunak ini patut diperhitungkan, mengingat harga lisensi dimungkinkan murah dibandingkan dengan sistem operasi produk baru seperti Windows Vista misalnya. Pustakawan harus cukup cerdas dalam menentukan seleksi tidak saja dalam pengadaan koleksi buku-buku perpustakaan tetapi juga dalam hal pemilihan yang terkait dengan penggunaan teknologi informasi khususnya.
Perangkat lunak pangkalan data CDS/ISIS maupun Winisis, lebih mudah digunakan atau lebih kompatibel di sistem operasi Windows ME dibanding dengan sistem operasi di atasnya. Meskipun dengan cara tertentu Winisis juga dapat dijalankan di Windows XP. Akan tetapi ketika link ruas data ke file PDF dalam rangka mengaplikasikan perpustakaan digital dengan menggunakan Windows XP berdasarkan pengalaman link tersebut tidak dapat berfungsi seperti ketika menggunakan Windows 98/ME.

VIRUS KOMPUTER DAN PENCEGAHANNYA
Sudah kita ketahui bersama, bahwa sistem operasi Windows sangat rentan terkena virus. Banyak teman-teman kita mengatakan bahwa sudah diberi anti virus masih juga kena? Virus dibuat dan diciptakan oleh pembuatnya, dan terus dilakukan “update” dan ditingkatkan kualitasnya baik sistem kerjanya, maupun penularannya. Cara pencegahan virus paling ekstrem, cara pertama adalah tidak menghubungkan komputer yang kita gunakan pada jaringan komputer atau internet, yang kedua tidak memasukkan disket; CD; flashdisk yang pernah digunakan di komputer lain. Dengan cara pencegahan di atas, tentu tidak kita inginkan. Lantas bagaimana? Selama ini penulis gunakan dua anti virus, dimana dalam setiap minggu dapat diperbarui “file update” dua kali, dengan mendownload melalui internet, anti virus tersebut adalah Norton Anti Virus, terdiri dari satu file sebesar 20.23 MB. Alamat link web atau situs langsung Norton Antri Virus tersebut adalah seperti berikut ini.

http://securityresponse.symantec.com/avcenter/download/pages/US-N95.html
Filename
Creation Date
Release Date
File Size
20070802-020-x86.exe
August 02, 2007
August 2, 2007
20.23 MB
MD5: 28B5128C372758DEF1F3F432EECBD453 all MD5 hashes

Yang satu lagi adalah anti virus : AVG, terdiri dari empat file yang dapat didownload secara rutin (seminggu) dua kali dan gratis seperti tersebut di bawah.

http://free.grisoft.com/doc/24/lng/us/tpl/v5
AVI: 269.11.2
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 1, 2007
5.7 MB
AVI: 269.11.2min. AVI: 269.11.0
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 1, 2007
22 kB
AVI: 269.11.2min. AVI: 269.0.0
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 1, 2007
346.8 kB
IAVI: / 933
Added detection of new variants of trojans Downloader.Agent, BackDoor.Hupigon, Dialer.
August 2, 2007
11.3 MB

Perangkat lunak AVG selain dapat didownload dapat dilakukan “update” langsung secara on line, dengan cara mensetting pada “Update Manager” pilih “Setting” kemudian pilih menggunakan “Proxy” bagi mereka yang komputernya terhubung dengan jaringan (LAN) atau dengan “Dial up” bagi mereka yang koneksi internetnya menggunakan MODEM. Versi yang digunakan penulis saat ini adalah AVG75free, besaran file instaler ini hanya sebesar 20.907 KB. Kedua anti virus tersebut di atas dapat di download secara gratis, seminggu dua kali kita harus rutin meng-update. Selama penulis menggunakan kedua anti virus tersebut meskipun komputer terkoneksi di jaringan lokal (LAN) dan internet ternyata cukup aman.
Beberapa cara lain untuk mencegah virus menular pada komputer, bagi Pustakawan pengguna e-mail dianjurkan jangan membuka e-mail yang nama pengirim asalnya tidak dikenal, apalagi mendownload ke dalam komputernya----biasanya salah satu penyebaran virus melalui cara ini. Berhati-hati juga pada penyebaran virus dari program-program instaler berupa file-file yang berekstensi EXE atau COM. Waspada terhadap flashdisk yang telah digunakan di berbagai komputer lain. Bagaimana dengan penggunaan CD/DVD, meskipun CD/DVD merupakan media yang memiliki karakter “read only”, dalam praktek masih dikatakan rawan terhadap penyebaran virus, ketika CD/DVD tersebut berisi data berupa file atau program instaler sudah terkena virus.
Ada jenis virus yang penyebarannya melalui “sharing” program aplikasi atau data, pada jaringan lokal komputer. Begitu mudahnya windows dikoneksikan kedalam sistem jaringan maka juga rawan terhadap penyebaran virusnya---akibatnya jika salah satu komputer terkena virus biasanya akan menular ke seluruh jaringan yang telah terhubung.


PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI OPEN SOURCE
Kehadiran perangkat lunak sistem operasi “open source” yang lebih dikenal dengan LINUX, pustakawan diharapkan segera bersiap-siap untuk menerima kehadirannya. Perangkat lunak ini dapat diperoleh secara gratis, meskipun ini tidak berlaku untuk semuanya. Ada LINUX yang harus menggunakan registrasi dengan pembelian (berlisensi), namun juga tersedia dalam versi yang gratis untuk digunakan, bahkan “Source Code” dapat dirubah-rubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing penggunanya. Kelebihan pengetahuan masyarakat pengguna di bidang perangkat-lunak sistem ini masih belum sebanyak pada sistem operasi basis Windows. Sehingga dengan demikian, pustakawan berpotensi menjadi agen pelatihan yang dapat dilaksanakan dengan bekerjasama dengan komunitas-komunitas pengguna Linux, di Indonesia bernama Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI), selain penyedia literatur atau buku-buku yang relevan dengan bidang ini----yang telah menjadi tanggung jawabnya sebagai pustakawan.
Linux memiliki kehandalan ketika dijadikan sistem operasi “server” pada jaringan lokal, dan selama ini masih jauh dari gangguan virus komputer. Dikarenakan Linux ditrisbusikan dari berbagai distro, tidak seperti pada sistem operasi berbasis Windows. Pembuat virus akan berpikir keuntungan dan kerugian dari sisi penciptaannya karena penularan pada komputer masyarakat lambat berkembang, dikarenakan basis sistem operasi tidak lagi di monopoli dari satu perusahaan tertentu. Jenis-jenis perangkat lunak open source (Linux) serta bahasan yang terkait tidak dijelaskan dalam forum ini, mengingat keterbatasan “quota space” yang diberikan kepada penulis.

MEMANFAATKAN AKSES INTERNET SECARA LEBIH OPTIMAL
Media ini tentu tidak asing lagi bagi Pustakawan, namun penulis mencoba untuk sedikit memberikan tinjauan baik secara realita maupun berbagi pengalaman yang mungkin dapat dimanfaatkan.

Penggunaan e-mail (Electronic Mail)
Banyak teman-teman Pustakawan yang telah memiliki e-mail, dalam realita belum dapat dikatakan cukup menggembirakan. Karena berdasarkan pengalaman ketika penulis mencoba mengirim beberapa e-mail tidak terbalaskan, padahal maksud dari email tersebut diharapkan menjadi media komunikasi yang relatif cepat dan murah dibanding media lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi jika ada Pustakawan yang tersedia fasilitas internet hanya mementingkan browsing dan tidak memiliki e-mail ? Browsing bukannya tidak penting, namun e-mail bagi seorang pustakawan lebih utama. Berbagai forum diskusi “mailing list”, peserta wajib memiliki e-mail yang selalu aktip. Beberapa vendor perangkat lunak “trial version” maupun “beta version” yang dapat didownload secara gratis, biasanya nomor registernya akan dikirim melalui e-mail yang harus diisi dalam form isian ketika kita men- download perangkat lunak yang kita inginkan, misal Vmware Workstation. Selain itu, ini juga berlaku ketika penulis mendownload Winisis (Original) dari situs UNESCO, register dikirim ke e-mail agar Winisis dapat diinstal ke dalam komputer----tanpa register tersebut maka Winisis tidak bisa diinstal ke dalam komputer.

Beberapa fasilitas e-mail gratis yang dapat gunakan antara lain :
http://www.google.com/mail http://mail.telkom.net/ http://www.hotmail.com
http://mail.yahoo.com/ http://mail.lycos.com/ http://usa.mail.com


Mekanisme download file berkapasitas besar
Adakalanya kita mengendaki mendownload file yang berkapasitas besar, sebagai contoh sistem operasi Linux yang besaran filenya minimal sebesar besaran CD sekitar 697 MB. Dalam rangka menunjang kegiatan ini, memerlukan perangkat lunak yang penulis sebut sebagai “utiliti”. Antara lain : 1. Download Accelator Plus (contoh tampilan lihat lampiran); 2. µTorrent; dan 3. Getright. Selama ini penulis hanya menggunakan dua “utiliti” pertama dan kedua saja. Kedua utiliti tersebut bermanfaat agar file yang kita download berhasil secara sempurna. Kelebihan penggunaan perangkat lunak “utiliti”, jika sewaktu-waktu koneksi terputus ketika kita sedang mendownload, maka perangkat lunak tersebut mampu melanjutkan (resume) tanpa melakukan pengulangan proses dari awal. Perlu dicatat, bahwa tidak semua file dapat didownload dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, tetapi dapat didownload menggunakan fasilitas yang ada di windows sendiri. Namun memiliki kelemahan. Yang pertama jika koneksi terputus akibat listrik mati atau provider yang kita gunakan, maka kita harus melakukan proses ulang. Kelemahan kedua, informasi “file download complete” berdasarkan pengalaman tidak seluruhnya sempurna dapat diinstal, biasanya ketika kita menginstal program hasil download gagal, maka akan diperoleh informasi “file corrupt”.
Perangkat lunak utiliti “µTorrent”, hanya dapat digunakan untuk mendownload file khusus yang memiliki ekstensi toorent, salah satu contoh misal : PCLinuxOS 2007.torrent. Kemampuan perangkat lunak ini sama dengan yang dimiliki Download Accelator Plus, yang mana ketika koneksi terputus proses dapat dilanjutkan seketika itu atau ditunda hari-hari berikutnya sesuai kehendak kita. Instaler “µTorrent” berbasis windows, dapat diperoleh secara gratis dan besaran file hanya sebesar 173 KB. (Contoh tampilan lihat lampiran).

Mesin Pencari (Search Engine)
Untuk memudahkan pencarian ada beberapa mesin pencari yang dapat kita gunakan, antara lain melalui URL yahoo.com (yahoo.co.id); dan google.com (google.co.id). Selama ini penulis menggunakan mesin pencari yang kedua, yaitu google.com dengan alasan bahwa akses halaman depan lebih cepat dibanding dengan yahoo.com. Google.com ketika diakses tidak me-loading gambar (iklan) seperti pada yahoo.com. Masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, dalam hal ini penulis tidak akan menjelaskan mengingat quota halaman yang harus dipatuhi.
Kedua-duanya dalam hal browsing memiliki kecerdasan yang baik, selain sebagai mesin pencari, web ini mempunyai fasilitas e-mail gratis yang dapat kita gunakan, masing-masing menyediakan space (ruang) cukup besar. Peluang ini, dapat kita gunakan selain sebagai media arsip juga fasilitas back-up data yang cukup aman dibanding dengan media backup data kita sendiri.

Blogger dan Forum Diskusi
Blog seperti pada WordPress.com, adalah ajang untuk berdikusi pustakawan, disini dirancang untuk menyampaikan pendapat atau komentar secara bebas dari apa yang ditulis oleh pembuatnya. Web ini dapat diperoleh secara gratis dan cukup mudah digunakan karena disain sudah tersedia tinggal mengisi isi “content” yang diminati, begitu juga hosting dapat digunakan tanpa harus membayar. Selain itu kita juga dapat menggunakan blog pada situs blogger.com menu-menu disediakan dalam bahasa Indonesia. Blog sendiri diartikan sebagai media penyampaian hasil pemikiran yang dipublikasikan.
Fungsi sebuah blog dapat menampilkan hasil pemikiran pembuatnya sendiri di web. Blog adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan dan berbagi hal-hal yang dianggap menarik---baik itu komentar politik, sebuah diary pribadi, atau link ke situs web yang ingin diingat. Banyak orang menggunakan blog hanya untuk mengorganisasikan pikiran mereka, sementara yang lain membuat blog yang membuat banyak pengaruh dengan ribuan pemirsa di seluruh dunia. Jurnalis dan amatir menggunakan blog untuk menerbitkan berita terkini, sementara jurnalis personal membeberkan pemikiran terdalam mereka. Berdasarkan pengalaman hampir semua blog yang pernah penulis akses di internet, sementara ini cukup positip dapat digunakan untuk belajar memberikan komentar (comments), hasil pemikiran pembaca lain berupa tulisan berupa komentar, sanggahan, kritik atau saran dan lain sebagainya.

PROFESI DAN ORGANISASI PUSTAKAWAN
Sudah hampir kurang lebih 34 tahun organisasi profesi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) didirikan berdasarkan kesepakatan Kongres Pustakawan Seluruh Indonesia tanggal 5-7 Juli 1973 di Ciawi, Bogor. Dari sejak berdirinya hingga kini, organisasi profesi ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi upaya pembinaan keprofesian, antara lain melalui berbagai kegiatan seminar, rapat kerja, dan kongres yang diselenggarakan secara berkelanjutan. Selain itu, juga melalui berbagai penerbitan, baik buku maupun jurnal, yang menjadi wahana komunikasi antar pustakawan di negeri ini. Salah satu bentuk kontribusi IPI bagi pengembangan kepustakawanan di Indonesia adalah kerja sama dan dukungan kepada Perpustakaan Nasional dalam mengegolkan ketentuan jabatan fungsional pustakawan dengan terbitnya Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 18/1988 tanggal 28 Februari 1988. Jika kepustakawanan dideskripsikan sebagai kualifikasi, status, kehormatan, keterampilan, dan keanggotaan para pustakawan di seluruh Indonesia, yang bekerja baik secara formal maupun informal, baik dengan bergelar maupun tanpa gelar, di bidang perpustakaan di seluruh Indonesia. Demikian pula, Ikatan Pustakawan Indonesia tidak memisahkan pustakawan yang bekerja di dalam lingkungan instansi pemerintah maupun swasta. Namun kesan sementara ini IPI identik dengan pustakawan yang bekerja di instansi pemerintah. Profesi tidak dipengaruhi oleh status formal dan informal, pemerintah dan non pemerintah, bahkan pekerja kios komik sekalipun jika dapat memberikan kontribusinya dalam gemar membaca masyarakat bukannya tidak mungkin sebuah profesi yang profesional.
Profesi memerlukan profesionalisme yang terus perlu ditingkatkan dan dikembangkan melalui ikatan yang telah ada yaitu IPI, agar dalam menjalankan tugasnya dapat berjalan lebih efisien, efektip serta optimal. Ikatan Pustakawan Indonesia bukan hanya sekedar sebuah organisasi yang hanya sekedar memikirkan nasib dari para anggotanya saja. Namun lebih dari itu, tanggung jawab moral terhadap pembelajaran bangsa menjadi fokus utama dalam hal ini. Sehingga IPI, mau tidak mau terus berbenah diri baik sistem, organisasi, serta utamanya paradigma selama ini. Jika perlu, dimungkinkan menempatkan posisi dalam organisasi puncak orang-orang yang bergerak dalam bidang swasta. Hal ini, cukup beralasan bahwa tanggung-jawab keberhasilan kepustakawanan di Indonesia dalam pembelajaran masyarakat tidak semata-mata tugas pustakawan tetapi juga seluruh komponen bangsa lainnya. Selama ini, di berbagai perpustakaan sekolah hingga perguruan tinggi yang diselenggarakan swasta, rata-rata mereka masih menganggap bahwa organisasi IPI adalah organisasi kalangan pustakawan yang bekerja pada instansi pemerintah.
Pernyataan ini tentu tidak benar, ada Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, yang menerapkan status kepegawaiannya sebagai fungsional pustakawan sama dengan pustakawan Perguruan Tinggi Negeri, tidak jauh berbeda dalam syarat kenaikan pangkat dan kenaikan tunjangan jabatan bahkan besarnya tunjangan jabatannya. Perguruan Tinggi Swasta lain, memberikan apresiasi yang berbeda kepada seluruh Pustakawannya denga bentuk nilai nominal Rp.150.000,- per karya tulis yang berhasil di muat di berbagai media baik terbitan kampus maupun di luar kampus. Apresiasi tersebut langsung diberikan oleh intansi induknya bukan sekedar dari unit perpustakaannya, yang menarik dari sisi ini adalah institusi tidak memandang apakah jurnal atau buku yang diterbitkan mendapat honorarium dari penerbit sebagai penulis atau tidak, hak pustakawan diberlakukan sama. Kedua kondisi yang demikian belum merata, dan diberlakukan pada lingkungan perpustakaan swasta yang lain. Dengan demikian, penulis berharap agar penerapan fungsional pustakawan maupun pemberian apresiasi tersebut dapat diberlakukan dan dibakukan secara lebih merata. Tidak hanya, di lingkungan perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi swasta seperti tersebut di atas, tetapi juga pada perpustakaan-perpustakaan khusus yang berada di berbagai perusahaan swasta tentunya. Melalui forum ini pula, penulis masih sedikit prihatin kegiatan organisasi IPI terutama di daerah masih jauh dari yang diharapkan. Untuk itu, marilah kita benahi dan kita tingkatkan bersama baik dari sisi kuantias maupun kualitas organisasinya agar bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan negara.

PENUTUP
Dari uraian tersebut di atas, penulis berharap dapat dimanfaatkan sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan khususnya kepustakawanan Indonesia, serta pengembangan sistem pembelajaran masyarakat yang berkualitas pada umumnya. Pustakawan hendaknya tidak saja mampu mengelola perpustakaan saja. Selain dari itu, pustakawan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan yang semula dari pengguna teknologi informasi biasa, menjadi pengguna ahli teknologi informasi. Yang mana dalam keahlian ini, sangat berpotensi dan diperlukan untuk meningkatkan kredibilitas pustakawan, yang dampak akhirnya bermuara pada pengurangan atau bahkan menghilangkan sama sekali paradigma lama pada masyarakat, bahwa perpustakaan terkesan sebagai tempat pembuangan karyawan yang kurang/tidak produktif, dari unit atau bagian di lingkungan instansi asal atau sebelumnya.
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pusat yang berkedudukan di ibu kota Negara, hendaknya terus memonitor dan mengevaluasi esistensi keanggotaan IPI daerah dan cabang-cabang di seluruh Indonesia, agar keberadaannya benar-benar berkembang seperti yang diharapkan. Laporan triwulan atau tengah tahunan kegiatan IPI di daerah/cabang terus dipantau dan diagendakan, agar sewaktu-waktu terjadi stagnasi atau kevakuman---dapat dibantu IPI Pusat dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat pelatihan-pelatihan termasuk : forum diskusi, seminar; lokakarya; dan/atau workshop tentang kepustakawanan; teknologi informasi dan bidang-bidang yang relevan lainnya. Pernyataan : stagnan dan kevakuman organisasi IPI daerah bahkan cabang ini benar-benar telah terjadi, sungguh dilematis--bukan ?

DAFTAR RUJUKAN

Creth, S. 1999. “The Electronic Library: Stouching Toward The Future or Creating A New Information Environment”. Follett Lecture Series.
http://www.ukoin.ac.uk/follett/creth/paper.html (24/7/1999)
Palmer, Robert B. 1997. “The internet: Technology and Trends”. Speech Delivered to
The Spring Internet World 97, Los Angeles, California, 12 March.
Rowley, Jennifer. 1998. The Electronic Library, 4th ed. London: Library Association Publishing.
Sriregar, A. Ridwan, 1996. Internet dan Implikasinya. Medan. Perpustakaan USU.
Suwarso, Tjuk. 2007. “Membangun Mediator Pembelajaran Masyarakat Dengan Mengoptimalkan Potensi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia”.
http://free.grisoft.com/doc/24/lng/us/tpl/v5
http://kepustakawanan.blogspot.com/2006/05/ilmu-dan-disiplin.html
http://securityresponse.symantec.com/avcenter/download/pages/US-N95.html
http://www.pnri.go.id

Rabu, 05 September 2007

LAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS ICT.

LAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
(ICT = INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY)

Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi dapat meningkatkan kinerja perpustakaan dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan kredibilitas, eksistensi, dan produktivitas. Perkembangan teknologi informasi memperlihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini, seperti e-mail, e-book, e-journal, e-library, e-government, e-banking, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.
PENDAHULUAN
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.
Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-mail, e-banking, e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-book, e-journal, e-medicine, e-laboratory, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

PENDIDIKAN BERBASIS ICT : SEBUAH TINJAUAN
Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi (TI) dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya. Teknologi informasi banyak berperan dalam bidang-bidang antara lain : Bidang pendidikan(e-education) termasuk di dalamnya perpustakaan (e-library). Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “Pendidikan tanpa sekolah (Deschooling Society)” yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan. Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya.
Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun, teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin. Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan nantinya akan bersifat “Saat itu juga” (Just on Time). Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner.
Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan “Computer-based Multimedia Communication“ (CMC) yang bersifat sinkron dan asinkron. Dari ramalan dan pandangan para cendikiawan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif. Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah:
- Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama.
- Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan- Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku.
- Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak.
Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.
Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut: (1) Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya. (2) Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya. (3) Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya. (4) Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning (5) Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database. (6) Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web. Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya.
Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware, maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi perhatian utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada “non text based material”. Di luar negeri, khususnya di negara maju, pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metoda pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Beberapa tahun yang lalu pertukaran materi dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video.
Saat ini hampir seluruh program distance learning di Amerika, Australia dan Eropa dapat juga diakses melalui internet. Studi yang dilakukan oleh Amerika, sangat mendukung dikembangkannya e-learning, menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% waktu lebih singkat, dan 30% biaya lebih murah. Bank Dunia (World bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan program Global Distance Learning Network (GDLN) yang memiliki mitra sebanyak 80 negara di dunia.
Melalui GDLN ini maka World Bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak (dari 30 menjadi 150 mahasiswa) dengan biaya 31% lebih murah. Dalam era global, penawaran beasiswa muncul di internet. Bagi sebagian besar mahasiswa di dunia, uang kuliah untuk memperoleh pendidikan yang terbaik umumnya masih dirasakan mahal. Amat disayangkan apabila ada mahasiswa yang pandai di kelasnya tidak dapat meneruskan sekolah hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah. Informasi beasiswa merupakan kunci keberhasilan dapat menolong mahasiswa yang berpotensi tersebut.

PERPUSTAKAAN BERBASIS ICT
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
a. Penerapan teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.
b. Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung keduanya.
Peranan Katalog dalam Automasi (Otomasi) Perpustakaan
Katalog adalah keterangan singkat atau wakil dari suatu dokumen. Katalog perpustakaan elektronik adalah jantung dari sebuah sistem perpustakaan yang terautomasi. Sub sistem lain seperti OPAC dan sirkulasi berinteraksi dengannya dalam menyediakan layanan automasi. Sebuah sistem katalog yang dirancang dengan baik merupakan faktor kunci keberhasilan penerapan automasi perpustakaan.
Cakupan dari Automasi Perpustakaan
· Pengadaan koleksi
· Katalogisasi, inventarisasi
· Sirkulasi, reserve, inter-library loan
· Pengelolaan penerbitan berkala
· Penyediaan katalog (OPAC)
· Pengelolaan anggota
Bagaimana mengenai Layanan Referens ?
Layanan referens tidak termasuk dalam bagian yang terintegrasi dari suatu sistem automasi perpustakaan, namun yang lebih penting adalah penyediaan teknologi informasi yang digunakan dalam layanan referens. Layanan informasi referens dikembangkan dengan menyediakan koleksi dalam bentuk digital yang dikemas dalam CD-ROM dan akses informasi ke jaringan luar (LAN, WAN, Internet)

Peran CD-ROM (Layanan Off-line)
· Mempercepat akses informasi multi media baik itu berupa abstrak, indeks, bahan full text, dalam bentuk digital tanpa mengadakan hubungan ke jaringan komputer. (CD Proquest) yaitu jurnal ilmiah yang ada di CD;
· Media back-up / cadangan data perpustakaan dan sarana koleksi referens bagi perpustakaan lain.
Peran Internet (Layanan Online)
· Untuk mengakses infrormasi multimedia dalam resource internet.
· Sarana telekomunikasi dan distribusi informasi.
· Untuk membuat homepage, penyebarluasan katalog dan informasi.
Keperluan Pengguna
Pustakawan harus dapat melayani keperluan pengguna seperti permintaan akan akses yang lebih cepat ke informasi yang diperlukan dari dalam maupun luar perpustakaan. Dengan begitu diharapkan agar para pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi sehingga mereka dapat membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan.
Apa yang harus diketahui dan dikerjakan oleh pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaannya :
· Faham akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari automasi perpustakaan (AP)
· Faham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem
· Faham akan dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi dan maintenance.
· Faham akan proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah sistem
· Faham akan dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja
Unsur-unsur Automasi Perpustakaan
Dalam sebuah sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa unsur atau syarat yang saling mendukung dan terkait satu dengan lainnya, unsur-unsur atau syarat tersebut adalah :

1. Pengguna (users)
Pengguna merupakan unsur utama dalam sebuah sistem automasi perpustakan. Dalam pembangunan sistem perpustakaan hendaknya selalu dikembangkan melalui konsultasi dengan pengguna-penggunanya yang meliputi pustakawan, staf yang nantinya sebagai operator atau teknisi serta para anggota perpustakaan. Apa misi organisasi tersebut? Apa kebutuhan informasi mereka ? Seberapa melek komputerkah mereka? Bagaimana sikap mereka ? Apakah pelatihan dibutuhkan? Itu adalah beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam mengembangkan sebuah sistem automasi perpustakaan. Automasi Perpustakaan baru bisa dikatakan baik bila memenuhi kebutuhan pengguna baik staf maupun anggota perpustakaan. Tujuan daripada sistem automasi perpustakaan adalah untuk memberikan manfaat kepada pengguna.
Konsultasikan dengan pengguna untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka. Namun perlu hati-hati terhadap penilaian keliru yang dilakukan oleh pengguna mengenai kebutuhan dan persepsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh suatu sistem komputer . Kebutuhan dapat dirincikan terlalu banyak atau terlalu sedikit dan kadang-kadang persepsi bisa juga keliru.
Staf yang bersangkutan harus dilibatkan mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan sistem. Masukan dari masing-masing staf harus dikumpulkan untuk menjamin kerjasama mereka. Tenaga-tenaga inti yang dilatih untuk menjadi operator, teknisi dan adminsitrator sistem harus diidentifikasikan dan dilatih sesuai bidang yang akan dioperasikan.
2. Perangkat Keras (Hardware)
Komputer adalah sebuah mesin yang dapat menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Pendapat lain mengatakan bahwa komputer hanya sebuah komponen fisik dari sebuah sistem komputer yang memerlukan program untuk menjalankannya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komputer adalah sebuah alat dimana kemampuanya sangat tergantung pada manusia yang mengoperasikan dan software yang digunakan.
Kecenderungan perkembangan komputer :
· Ukuran fisik mengecil dengan kemampuan yang lebih besar
· Harga terjangkau (murah)
· Kemampuan penyimpanan data berkapasitas tinggi
· Transfer pengiriman data yang lebih cepat dengan adanya jaringan
Dalam memilih perangkat keras yang pertama adalah menentukan staf yang bertanggung jawab atas pemilihan dan evaluasi hardware sebelum transaksi pembelian. Adanya staf yang bertanggung jawab adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain dan menghindari dampak buruk yang mungkin timbul. Hal lain adalah adanya dukungan teknis serta garansi produk dari vendor penyedia komputer.
3. Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak diartikan sebagai metode atau prosedur untuk mengoperasikan komputer agar sesuai dengan permintaan pemakai. Kecenderungan dari perangkat lunak sekarang mampu diaplikasikan dalam berbagai sistem operasi, mampu menjalankan lebih dari satu program dalam waktu bersamaan (multi-tasking), kemampuan mengelola data yang lebih handal, dapat dioperasikan secara bersama-sama (multi-user).
Untuk mendapatkan software kini sudah banyak tersedia baik dari luar maupun dalam negeri dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan dan harga yang bervariasi. Di perpustakaan software yang dikenal antara lain CDS/ISIS, WINISIS yang mudah didapat dan gratis freeware dari Unesco, ATHENAEUM (Australia)? atau dari beberapa perguruan tinggi sekarang telah banyak membuat dan mengembangakan sistem perpustakaannya sendiri seperti SIPUS 2000 di UGM, SIPISIS, SIMPUS di IPB, NCI BOOKMAN, SPITS, SPEKTRA. Masih banyak lagi perguruan tinggi dan institusi pengembang software yang mengembangkan SIP dengan kemampuan yang tidak kalah sip. Sistem Informasi Perpustakaan ini difungsikan untuk pekerjaan operasional perpustakaan, mulai dari pengadaan, katalogisasi, inventarisasi, keanggotaan, OPAC, pengelolaan terbitan berkala, sirkulasi, dan pekerjaan lain dalam lingkup operasi perpustakaan.
4. Network / Jaringan
Jaringan komputer telah menjadi bagian dari automasi perpustakaan karena perkembangan yang terjadi di dalam teknologi informasi sendiri serta adanya kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya bersama melalui teknologi.
Komponen perangkat keras jaringan antara lain : komputer sebagai server dan klien, Network Interface Card ( LAN Card terminal kabel (Hub), jaringan telepon atau radio, modem.
Hal yang harus diperhatikan dalam membangun jaringan komputer adalah :
Jumlah komputer serta lingkup dari jaringan (LAN, WAN)
Lokasi dari hardware : komputer, kabel, panel distribusi, dan sejenisnya
Protokol komunikasi yang digunakan
Menentukan staf yang bertanggung jawab dalam pembangunan jaringan.
Standar basis data katalog
Kerjasama antar perpustakaan secara elektronik telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang telah memungkinkan untuk itu dan didasari adanya kebutuhan untuk menggunakan sumber daya bersama. Bentuk tukar-menukar maupun penggabungan data katalog koleksi adalah suatu hal yang sudah biasa terjadi dalam perpustakaan, kerjasama dapat dilakukan jika masing-masing perpustakaan itu memiliki kesamaan dalam format penulisan data katalog data. Persoalan yang sering dihadapi dalam kerjasama tukar-menukar atau penggabungan data adalah banyaknya data yang ditulis dengan suka-suka yaitu tidak memperhatikan standar yang ada. Pekerjaan konversi data merupakan hal yang membosankan dan memakan banyak waktu. Sering data katalog dalam perpustakaan tidak menggunakan standar, hal ini banyak terjadi karena kurangnya pemahaman akan manfaat standar penulisan data. Pertemuan-pertemuan mungkin perlu sering diadakan diantara anggota-anggota jaringan perpustakaan untuk menentukan standar-standar dan prosedur-prosedur yang digunakan bersama.
Persoalan lain dalam standardisasi format penulisan data katalog adalah bahasa. Kebanyakan perpustakaan mengkoleksi materi yang menggunakan bahasa pengantar berbeda-beda. Bagaimana dengan bahasa pengantar cantuman katalog itu sendiri? Informasi judul jelas harus diisi sesuai dengan judul koleksi yang bersangkutan. Bagaimana dengan kolom subjek dan kata kunci? Haruskah diisi dengan bahasa nasional (Bahasa Indonesia untuk perpustakaan di Indonesia) atau dengan bahasa internasional (Bahasa Inggris)? Lebih jauh lagi, bagaimana kita memberi nama pada kolom-kolom isian, dengan Bahasa Indonesia (judul, pengarang, penerbit, dsb.) atau bahasa Inggris (title, author, publisher etc.)? Bagaimana dengan koleksi yang berpengantar bahasa-bahasa lain seperti Arab, China atau Korea ?
METADATA
Metada merupakan istilah baru dan bukan merupakan konsep baru di dunia pengelola informasi. Perpustakaan sudah lama menciptakan metadata dalam bentuk pengkatalokan koleksi .
Definisi metadata sangat beragam ada yang mengatakan “data tentang data” atau “informasi tentang informasi”, pengertian dari beberapa definisi tersebut bahwa metadata adalah sebagai bentuk pengindentifikasian, penjelasan suatu data, atau diartikan sebagai struktur dari sebuah data. Dicontohkan metadata dari katalog buku terdiri dari : judul, pengarang, penerbit, subyek dan sebagainya. Metada yang biasa digunakan di perpustakaan adalah Marc dan Dublin Core.
INDOMARC.
Indonesia of Machine Readable Cataloging (MARC) merupakan salah satu hasil dan juga sekaligus salah satu syarat penulisan katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC ternyata sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara lain turut mengembangkan format MARC sejenis bagi kepentingan nasionalnya masing-masing.
Format INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2709 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya. Informasi bibliografi biasanya mencakup pengarang, judul, subyek, catatan, data penerbitan dan deskripsi fisik.
Indomarc menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen dan dapat mendeskripsikan dengan baik kebanyakan objek fisik sumber pengetahuan, seperti jenis monograf (BK), manuskrip (AM), dan terbitan berseri (SE) termasuk; Buku Pamflet, Lembar tercetak, Atlas, Skripsi, tesis dan disertasi (baik diterbitkan ataupun tidak), dan Jurnal Buku Langka.
DUBLIN CORE
Dublin Core merupakan salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Gagasan membuat standar baru agaknya dipengaruhi oleh rasa kurang puas dengan standar MARC yang dianggap terlalu banyak unsurnya dan beberapa istilah yang hanya dimengerti oleh pustakawan serta kurang bisa digunakan untuk sumber informasi dalam web. Elemen Dublin Core dan MARC intinya bisa saling dikonversi.
Metadata Dublin Core memiliki beberapa kekhususan sebagai berikut:
a. Memiliki deskripsi yang sangat sederhana
b. Semantik atau arti kata yang mudah dikenali secara umum.
c. Expandable memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Dublin Core terdiri dari 15 unsur yaitu :
Title : judul dari sumber informasi
Creator : pencipta sumber informasi
Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
Date : tanggal penciptaan sumber informasi
Type : jenis sumber informasi, novel, laporan, peta dan sebagainya
Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasian sumber informasi. Contoh URL, alamat situs
Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
Rights : pemilik hak cipta sumber informasi

MEMANFAATKAN AKSES INTERNET SECARA LEBIH OPTIMAL
Media ini tentu tidak asing lagi bagi Pustakawan, namun penulis mencoba untuk sedikit memberikan tinjauan baik secara realita maupun berbagi pengalaman yang mungkin dapat dimanfaatkan.
Penggunaan e-mail (Electronic Mail)
Banyak teman-teman Pustakawan yang telah memiliki e-mail, dalam realita belum dapat dikatakan cukup menggembirakan. Karena berdasarkan pengalaman ketika penulis mencoba mengirim beberapa e-mail tidak terbalaskan, padahal maksud dari email tersebut diharapkan menjadi media komunikasi yang relatif cepat dan murah dibanding media lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi jika ada Pustakawan yang tersedia fasilitas internet hanya mementingkan browsing dan tidak memiliki e-mail ? Browsing bukannya tidak penting, namun e-mail bagi seorang pustakawan lebih utama. Berbagai forum diskusi “mailing list”, peserta wajib memiliki e-mail yang selalu aktip. Beberapa vendor perangkat lunak “trial version” maupun “beta version” yang dapat didownload secara gratis, biasanya nomor registernya akan dikirim melalui e-mail yang harus diisi dalam form isian ketika kita men- download perangkat lunak yang kita inginkan, misal VMware Workstation. Selain itu, ini juga berlaku ketika penulis mendownload Winisis (Original) dari situs UNESCO, register dikirim ke e-mail agar Winisis dapat diinstal ke dalam komputer----tanpa register tersebut maka Winisis tidak bisa diinstal ke dalam komputer.
Pentingnya e-mail bagi pustakawan, berfungsi untuk menjalin kerja sama antar pustakawan di berbagai perpustakaan untuk meningkatkan jasa layanan penelusuran informasi oleh pengguna perpustakaan suatu subyek yang kebetulan di perpustakaan kita sendiri tidak memiliki (tersedia).
Beberapa fasilitas e-mail gratis yang dapat gunakan antara lain :

http://www.google.com/mail http://mail.telkom.net/ http://www.hotmail.com
http://mail.yahoo.com/ http://mail.lycos.com/ http://usa.mail.com

Mekanisme download file berkapasitas besar
Adakalanya kita mengendaki mendownload file yang berkapasitas besar, sebagai contoh sistem operasi Linux yang besaran filenya minimal sebesar besaran CD sekitar 697 MB. Dalam rangka menunjang kegiatan ini, memerlukan perangkat lunak yang penulis sebut sebagai “utiliti”. Antara lain : 1. Download Accelator Plus (contoh tampilan lihat lampiran); 2. µTorrent; dan 3. Getright. Selama ini penulis hanya menggunakan dua “utiliti” pertama dan kedua saja. Kedua utiliti tersebut bermanfaat agar file yang kita download berhasil secara sempurna. Kelebihan penggunaan perangkat lunak “utiliti”, jika sewaktu-waktu koneksi terputus ketika kita sedang mendownload, maka perangkat lunak tersebut mampu melanjutkan (resume) tanpa melakukan pengulangan proses dari awal. Perlu dicatat, bahwa tidak semua file dapat didownload dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, tetapi dapat didownload menggunakan fasilitas yang ada di windows sendiri. Namun memiliki kelemahan. Yang pertama jika koneksi terputus akibat listrik mati atau provider yang kita gunakan, maka kita harus melakukan proses ulang. Kelemahan kedua, informasi “file download complete” berdasarkan pengalaman tidak seluruhnya sempurna dapat diinstal, biasanya ketika kita menginstal program hasil download gagal, maka akan diperoleh informasi “file corrupt”.
Perangkat lunak utiliti “µTorrent”, hanya dapat digunakan untuk mendownload file khusus yang memiliki ekstensi toorent, salah satu contoh misal : PCLinuxOS 2007.torrent. Kemampuan perangkat lunak ini sama dengan yang dimiliki Download Accelator Plus, yang mana ketika koneksi terputus proses dapat dilanjutkan seketika itu atau ditunda hari-hari berikutnya sesuai kehendak kita. Instaler “µTorrent” berbasis windows, dapat diperoleh secara gratis dan besaran file hanya sebesar 173 KB. (Contoh tampilan lihat lampiran).
Mesin Pencari (Search Engine)
Untuk memudahkan pencarian ada beberapa mesin pencari yang dapat kita gunakan, antara lain melalui URL yahoo.com (yahoo.co.id); dan google.com (google.co.id). Selama ini penulis menggunakan mesin pencari yang kedua, yaitu google.com dengan alasan bahwa akses halaman depan lebih cepat dibanding dengan yahoo.com. Google.com ketika diakses tidak me-loading gambar (iklan) seperti pada yahoo.com. Masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, dalam hal ini penulis tidak akan menjelaskan mengingat quota halaman yang harus dipatuhi.
Kedua-duanya dalam hal browsing memiliki kecerdasan yang baik, selain sebagai mesin pencari, web ini mempunyai fasilitas e-mail gratis yang dapat kita gunakan, masing-masing menyediakan space (ruang) cukup besar. Peluang ini, dapat kita gunakan selain sebagai media arsip, juga fasilitas back-up data yang cukup aman dibanding dengan media backup data kita sendiri.
Blogger dan Forum Diskusi
Blog seperti pada WordPress.com, adalah ajang untuk berdikusi pustakawan, disini dirancang untuk menyampaikan pendapat atau komentar secara bebas dari apa yang ditulis oleh pembuatnya. Web ini dapat diperoleh secara gratis dan cukup mudah digunakan karena disain sudah tersedia tinggal mengisi isi “content” yang diminati, begitu juga hosting dapat digunakan tanpa harus membayar. Selain itu kita juga dapat menggunakan blog pada situs blogger.com menu-menu disediakan dalam bahasa Indonesia. Blog sendiri diartikan sebagai media penyampaian hasil pemikiran yang dipublikasikan.
Fungsi sebuah blog dapat menampilkan hasil pemikiran pembuatnya sendiri di web. Blog adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan dan berbagi hal-hal yang dianggap menarik---baik itu komentar politik, sebuah diary pribadi, atau link ke situs web yang ingin diingat. Banyak orang menggunakan blog hanya untuk mengorganisasikan pikiran mereka, sementara yang lain membuat blog yang membuat banyak pengaruh dengan ribuan pemirsa di seluruh dunia. Jurnalis dan amatir menggunakan blog untuk menerbitkan berita terkini, sementara jurnalis personal membeberkan pemikiran terdalam mereka. Berdasarkan pengalaman hampir semua blog yang pernah penulis akses di internet, sementara ini cukup positip dapat digunakan untuk berdikusi memberikan komentar (comments) hasil pemikiran pembaca lain, berupa tulisan berupa komentar, sanggahan, kritik atau saran dan lain sebagainya.

PENUTUP
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, yang pertama ketersediaan internet di Perpustakaan tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pengguna perpustakaan perguruan tinggi semata seperti mahasiswa; dosen; karyawan; saja. Yang kedua, layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, berfungsi meningkatkan jasa layanan kepada masyarakat pengguna perpustakaan lebih efektip; optimal; cepat dan akurat. Yang ketiga, bagi perpustakaan yang telah menerapkan layanan berbasis ICT akan lebih meningkatkan kredibilitas dan eksistensi dari perpustakaan itu sendiri tentunya.
Bagi perpustakaan perguruan tinggi yang sekiranya belum mampu melaksanakan layanan jasa ICT secara “online”, dapat memulai dengan menggunakan layanan secara “offline”, seperti layanan informasi “fulltext” dalam bentuk CD-ROM. Yang mana, muatan informasi dapat diseleksi, dipilih, diciptakan, ditentukan, dan diolah berdasarkan kebutuhan dari pengguna, tidak hanya tertuju pada pengguna internalnya saja namun juga pengguna eksternal lain yang membutuhkan. Dalam keseharian, pustakawan atau staf yang bekerja di perpustakaan sebaiknya lebih berperan aktif mengikuti perkembangan dalam bidang-bidang kepustakawanan; pustakawan; dan perpustakaan agar wawasan dapat bertambah----yang akhirnya bermuara bertambahnya pengetahuan, makna dan pentingnya sebuah profesi pustakawan dimana kita bekerja.
Dari kajian singkat di atas dapat dilihat juga bahwa layanan perpustakaan berbasis TI dapat diterapkan di semua bagian perpustakaan. Itu semua tergantung bagaimana dan apa kebutuhan pengguna dan juga perpustakaan. Proses pengembangan perpustakaan berbasis TI ini harus memperhatikan kepentingan pengguna dan juga kepentingan institusi / organisasi induk yang menaunginya. Tak kalah pentingnya adalah faktor kemampuan finansial dari perpustakaan / lembaga induk untuk menerapkan TI dalam layanan perpustakaan ini. Karena TI memang bukan barang “murah” dan perlu investasi yang cukup “mahal”. Namun demikian, penggunaan TI dalam bidang layanan perpustakaan ini memang sudah merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan lagi, sehingga perpustakaan perlu melakukan kajian prioritas kebutuhan TI untuk perpustakaannya. Semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Bell, Lori and Tom Peters. 2005 “Digital Library Services for All: Innovative Technology Open Doors to Print-Impaired Patrons”. American Libraries, September, pp. 46-49.

Bertot, John Carlo. 2003 “World Libraries on the Information Superhighway: Internet-based Library Services”. Library Trends, Vol. 52, No. 2, Fall 2003, pp. 209-227. Florida: University of Illinois.

Buckland, Michael. 1999. “Library Services in Theory and Context”. 2nd Edition. Berkeley: Berkeley University. Diakses melalui alamat situs :
http://sunsite.berkeley.edu/Literature/Library/Services/index.html

Casado, Margaret. 2001. “Delivering Library Services to Remote Students”. Computers in Libraries. Apr, Vol. 21, Issue 4, p32. Information Today Inc.

Enright. 1972. “New Media and the Library in Education”. London: Clive Bingley.

Fahmi, Ismail, 2000. “Konsep, Desain dan Implementasi Perpustakaan Elektronik: Integrasi Perpustakaan Terotomasi dan Perpustakaan Digital untuk Perpustakaan Nasional di Indonesia”. Jakarta.

UNESCO dan PUSNAS RI, 1999. “Technology Information & Communication” di Yogyakarta.



------------------- o0o --------------------

Kamis, 23 Agustus 2007

LINUX UNTUK PUSTAKAWAN

Dalam mengembangkan pengetahuan dalam bidang IT, pustakawan diharapkan memiliki keberanian dan kemauan untuk meninggalkan paradigma lama sebagai pengelola perpustakaan semata. Lebih dari itu pustakawan diharapkan mempunyai peran ganda selain sebagai pengelola dokumentasi dan informasi, mempunyai tanggung jawab tentang pembelajaran praktis terutama yang bisa dikatagorikan dengan penggunaan Teknologi Informasi. Kita semua telah tahu bahwa disekitar kita telah hadir sebuah sistem operasi "open source" mengapa kita tidak segera menjemputnya. Padahal Linux dikenal sebagai sistem operasi untuk server yang cukup handal. Dengan tulisan ini mudah-mudahan membuat semua rekan-rekan pustakawan segera bergabung membuat sebuah komunitas pengguna Linux Pustakawan (KPLPI) = Kelompok Pengguna Linux Pustakawan Indonesia.
Agar ketika berhadapan dengan kasus yang tak dapat diselesaikan tentang sistem operasi ini, kita dapat bersama-sama untuk mencari solusi dan pemecahannya.

BERBAGI PENGALAMAN : INSTALASI SISTEM OPERASI LINUX DAN WINDOWS

Berbagi pengalaman : integrasi sistem operasi Linux dan Microsoft Windows

ABSTRAK
Perkembangan teknologi informasi, dewasa ini terjadi sangat pesat, baik ditinjau dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak. Dengan demikian, mau tidak mau pustakawan harus siap menerima perubahan dari sisi manapun. Telah lama kita sebagai pemakai teknologi informasi bergantung pada suatu produk perangkat lunak khususnya Microsoft karena keterpaksaan, dan rata-rata kita masih menggunakan secara illegal. Dengan hadirnya sistem operasi “open source”, yang dikenal dengan nama Linux, penulis ingin berbagi pengalaman yang hasilnya dapat menjadi metode pembelajaran integrasi sistem operasi Linux dan Windows. Tetapi bukan suatu keharusan, bisa saja kita pilih untuk menggunakan kedua-duanya, misal sistem operasi Microsoft kita beli dengan “license”, dan program lainnya kita gunakan “Linux” yang bersifat “free” atau sebaliknya. Motif ini timbul akibat dari beberapa faktor : pertama, banyak virus komputer yang mudah masuk ke dalam sistem operasi Windows. Kedua, maraknya operasi penggunaan perangkat lunak bajakan. Yang ketiga, hadirnya sistem operasi baru yang bersifat “Open Source” dan “free” meskipun tidak seluruhnya. Dan yang terakhir Linux dikenal sebagai sistem operasi untuk server yang cukup handal, sehingga pustakawan wajib untuk mendalaminya. Dari beberapa pengalaman berbentuk tulisan ini, diharapkan akan muncul tulisan baru dari pustakawan lain, yang tentunya dapat bermanfaat bagi pustakawan (pengguna baru Linux yang dikenal sebagai Newbie). Metode pembelajaran pertama, kita dapat menginstal perangkat lunak sejenis Microsoft Office dengan produk lain yang lebih dikenal OpenOffice.org (Linux) ke dalam Windows. Metode kedua, instalasi sistem operasi menjadi “dual boot” yang lebih dikenal dengan istilah partisi, sehingga Microsoft dapat tetap digunakan bersama Linux yang diinstal pada partisi berbeda. Yang ketiga, menggunakan bantuan “virtual machine” yang disebut “VMWare”, dimana Linux secara virtual dapat diinstal ke dalam Windows tanpa merusak sistem yang sebelumnya ada. Sedang metode keempat, “Cross Over Office Professional” dapat digunakan sebagai media install platform Windows, misal Adobe Photoshop Professional dapat diinstal ke dalam Linux. Dan yang terakhir, dapat menggunakan salah satu distro Linux yang diinstal ke dalam komputer secara langsung. Dari berbagai distro Linux yang dicoba, hampir seluruhnya dapat mengenali komponen yang terpasang di mainboard, seperti : VGA card; Sound card; LAN card dan Modem internal (jika ada). Hambatan ada namun kurang berarti, ada beberapa printer terutama Canon PIXMA iP1000 ke atas masih harus mencari driver yang berjalan di Linux. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba dengan sistem operasi “open source”, yang “free” baik di rumah ataupun di perpustakaan.

PENDAHULUAN
Di Indonesia, komputer sudah dikenal sejak tahun 80an, dimana ketika itu sistem operasinya masih belum terlihat dominannya. Namun sekitar 25 tahunan kemudian ternyata pemakai PC mayoritas didominasi dengan basis OS Microsoft Windows, terlepas dari penggunaan yang legal dan tidak legal. Di dunia Perpustakaan, efektif digunakan sebagai pangkalan data sejak sekitar tahun 1988 an---menggunakan perangkat lunak yang dikenal dengan CDS/ISIS berasal dari UNESCO dengan basis sistem operasi DOS. Selain itu juga digunakan berbagai perangkat lunak pengolah kata seperti Wordstar; Chiwritter; spreadsheet Lotus. Perkembangan begitu cepat, Microsoft Windows hadir mulai dari versi 3 hingga Windows Vista keperpihakan masih didominasi oleh MS Windows. Kita seharusnya sebagai pemakai tidak bisa mengandalkan atau fanatik dengan satu sistem operasi saja ketika kita berhubungan dengan pihak lain. Kita sebagai pustakawan harus mau melihat bagaimana Linux, yang merupakan pendatang yang masih relatif baru, dapat berhubungan dan hidup harmonis dengan Microsoft Windows, sang penguasa sistem operasi saat ini.
Dalam kenyataan, windows masih merupakan sistem operasi yang menguasai pasar di desktop, menguasai hampir 90%. Di dunia serverpun MS Windows tetap merajai, walaupun tidak sedominan di desktop. Sementara, Linux yang baru berumur sekitar 10 tahun-an, terhitung baru apabila dibandingkan dengan MS Windows yang sudah berkembang sejak tahun 80-an.
Baru sekitar dua bulan ini saya menggunakan Linux. Awalnya juga karena terpaksa. Pada saat sistem Windows saya sering terkena virus. Serta didorong dengan keinginan saya yang besar untuk mengenal Linux. Setelah sekali mencoba jadi ketagihan untuk menggunakan Linux. Bahkan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi saya jadikan tantangan yang sangat berharga bagi diri saya. Melalui internet saya coba untuk menelusuri informasi tentang Linux; dari situlah saya dapatkan dua web yang menawarkan berbagai Distro Linux. Ketika itu, saya memperoleh penjelasan dari pihak penjualannya, bahwa Mandriva 2007 dapat berjalan di dua sistem operasi, yang dikenal dengan istilah “dual boot”, artinya kita dapat memilih sistem operasi yang akan kita gunakan Linux atau Windows. Setelah saya memperoleh installer Mandriva 2007 yang terdiri dari 4 CD, dengan rasa percaya diri instalasi segera saya mulai, CD1 saya masukkan ke dalam CD ROM.

PENGALAMAN YANG BERHARGA
Biasanya dalam pemilihan media booting harus melakukan tekan F8, kemudian saya pilih device booting system dengan menggunakan CD. Proses berjalan selang satu jam instalasi selesai. Setelah proses restart komputer, ternyata menghasilkan partisi C dan D Windows termasuk direktori dan file-file hilang terformat oleh Linux dan OS yang terinstal adalah Mandriva 2007. Gembira instalasi Linux Mandriva 2007 sukses, tetapi kecewa kehilangan Windows beserta direktori dan file2nya. Dari pengalaman ini saya makin dibuat penasaran. Saya yakin komputer saya dapat bekerja dengan dua OS pilihan yaitu Windows atau Linux., maka instalasi kedua saya ulangi dengan menginstal Windows kembali. Informasi dari teman-teman, saya dianjurkan membagi partisi C menjadi dua bagian menggunakan software Partision Magic. Padahal penggunaan software inipun saya masih awam, namun dengan semangat yang kuat cara pengoperasian Partision Magic dapat saya lakukan dengan mudah. Partici C Windows saya bagi dua, yang satu tetap digunakan sebagai media OS Windows, dan bagian lain akan saya gunakan sebagai media OS Linux Mandriva 2007. Instalasi kedua saya masih mengalami kegagagalan lagi. Saat itu saya hampir putus asa, bertanya kesana-sini jawaban mereka mengatakan tetap sama bisa berjalan dua OS. Informasi tersebut hanya sebatas bisa menggunakan pastisi yang lain dan kegagalan saya tidak ditunjukkan sebab-sebabnya. Dengan keinginan yang kuat saya ulangi proses instalasi ketiga dengan pembagian partisi C, saat saya gunakan Partision Magic ada beberapa pilihan formatnya NTFS; FAT32; atau Linux. Pembagian partisi C yang kedua saya pilih format Linux. Setelah itu CD install Linux Mandriva 2007 saya masukkan dengan proses pilih media booting CD. Dalam proses instalasi yang ketiga ini saya perhatikan setiap winzard yang ada dengan seksama dan hati-hati. Tahap-tahap proses dari CD1-CD4 berakhir kurang lebih 1 jam. Ketika instalasi Linux berakhir maka komputer mulai restart, dengan perasaan berdebar-debar komputer berhenti sejenak dan muncul pilihan OS : Linux dan Windows. Mulai saat itulah saya menggunakan dua OS baik di komputer rumah maupun di perpustakaan. Operating Systems MS Windows, saya gunakan jika pekerjaan menuntut untuk menggunakannya karena belum didukung oleh OS Linux. Sedangkan Linux saya gunakan untuk pembelajaran dan mengenal lebih dalam agar saya dapat menggunakan secara lebih optimal pada OS ini.

PENGENALAN KOMPONEN PERANGKAT KERAS
Dalam pengenalan komponen yang terpasang dalam perangkat keras, Linux sudah cukup bagus mulai dari---sound; VGA; sampai LAN card, namun untuk printer saya menemui hambatan. Dari distro Linux yang pernah penulis coba dan gunakan rata-rata tersedia driver printer tipe yang lama seperti pada Canon : BJC; HP; Brother; Epson. Jika Canon yang digunakan type iP1000; 1200; 1300; 1500; 1600; dan 1700 sudah pasti kita harus menggunakan driver yang berjalan di Linux. Hambatan pada driver printer membuat saya hampir putus asa kedua. Saya berusaha mencari informasi bagaimana mendapatkan driver printer pada Linux, ada yang memberikan info menggunakan TurboPrint for Linux dimana CD ini berisi informasi tentang driver printer, dengan harga per keping Rp.10.000,- Setelah CD saya dapatkan, dengan percaya diri dan berharap besar CD tersebut saya instal ke dalam Linux saya---apa yang terjadi ternyata driver printer tidak mendukung printer Canon iP 1300 yang saya miliki. Putus asa masih belum berakhir, mendapatkan lagi informasi untuk berselancar lagi melalui web site yang beralamat Openprint.org dari web ini masih belum saya dapatkan driver yang saya cari. Kemudian saya masuk ke dalam mailing list, melalui fasilitas inilah saya menemukan beberapa tanya-jawab orang-orang dari seluruh dunia, diantaranya Canon PIXMA iP 1300 pada Linux ada yang menyarankan menggunakan Canon iP 2200. Dan saya berusaha untuk mendownload driver printer yang saya butuhkan melalui web, setelah saya dapatkan saya coba untuk menginstallnya ke Linux saya. Dalam menginstall driver-driver pada Linux tidak seperti pada MS Windows---diperlukan jam terbang seperti pada pilot pesawat tentunya. Sejak saya berhasil mendapat driver printer yang saya butuhkan, saya mulai sedikit jatuh hati pada Linux---apalagi terdengar maraknya operasi aparat pada software bajakan. Sampai saat ini penulis sudah mengumpulkan beberapa distro Linux baik CD maupun DVD kurang-lebih sekitar 35 an jenis distro, dan telah merogoh kocek hampir sekitar Rp.600-700 ribuan.
Aplikasi yang paling sering saya gunakan saat ini adalah OpenOffice. Hal ini tak terlepas dikarenakan aktivitas saat ini lebih banyak berususan dengan pembuatan dokumen; spreadsheet; membuat presentasi dan sedikit data base. Untuk desktop environment saya menggunakan KDE. Untuk atitivitas internet saya lebih suka menggunakan Opera yang sudah tersedia ketika instal Linux. Alasan saya menyukai Opera, karena browser ini dapat digunakan sebagai email client, membuat catatan, dan melakukan download file. Jangan hanya mendengar, kata seorang filosofi namun coba dan terus cobalah. Hal ini seperti kita tahu bahwa Linux sudah banyak digunakan sebagai server otomasi di berbagai perpustakaan---tidakkah kita ingin sedikit ikut masuk untuk mendalaminya---paling tidak bagaimana menginstal Linux; bagaimana mengatur jaringan; yang jelas banyak manfaat dari pengalaman-pengalaman yang berguna bagi pustakawan lain.
Beberapa solusi, migrasi dari sebuah sistem yang satu dengan yang lain perlu pembelajaran dan pengenalan. Bagi pemula (istilah di kalangan Kelompok Pengguna Linux sebagai newbie) sementara dapat tetap menggunakan OS Microsoft Windows; kita dapat menginstal OpenOffice 2.XXX for Windows, yang bisa kita cari dengan menggunakan web browsing google---dan kita dapat mendownload secara gratis. Jika kesulitan saya akan bantu hanya dengan mengganti harga CD. Dari sinilah kita akan membiasakan dan mengenal apa yang disebut dengan perangkat lunak Open Source. Semua kebutuhan yang ada di Microsoft Office sudah tersedia di dalamnya. Gambar menu-driven OpenOffice dapat dilihat seperti di bawah ini:

OpenOffice Linux Microsoft Office
OpenOffice.org Base ---- Access
OpenOffice.org Calc ---- Excel
OpenOffice.org Draw ---- Excel (Chart Wizard)
OpenOffice.org Inpress ---- Powerpoint
OpenOffice.org Math ---- Mathematic
OpenOffice.org Writer ---- Word

PERANGKAT LUNAK UTILITI
Perangkat lunak pertama, bernama VMWare (gambar tampilan lihat lampiran) yaitu Virtual Machine yang berfungsi untuk membuat perangkat lunak yang satu berada di dalam perangkat lunak yang lain. Perangkat lunak ini layak untuk digunakan sebagai pembelajaran tanpa harus menghapus sistem yang lain. Artinya, saya tetap menggunakan operating system Microsof Windows XP---tetapi saya ingin menjalankan Linux di dalam windows, yang ketika itu saya coba menggunakan Open Suse 10.2 dengan hasil seakan-akan saya berada di operating system Linux. Dengan perangkat lunak VMWare inilah membantu kita untuk mengetahui fitur-fitur Linux yang ada dan dapat dimanfaatkan, menarik---bukan ? Meskipun Linux kita instal ke dalam Virtual tersebut, tidak akan merusak sistem windows yang sudah ada sebelumnya.
Yang kedua Cross Over Office Professional, adalah sebuah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menjalankan perangkat lunak yang berjalan di Windows ke dalam system Linux. Ketika komputer saya sudah terinstal Linux Open Suse 10.2 ---saya mencoba perangkat lunak Cross Over Office Professional saya instal ke dalam Linux sehingga Finish (sukses). Kemudian, langkah berikutnya saya coba untuk menginstal Microsoft Office Professional 2003 menggunakan bantuan Cross Over---ternyata sukses dengan sempurna. Semua fitur-fitur mulai dari Word; Excel; Power Point; dan Access semua dapat berjalan normal seperti dalam Windows. Namun ada beberapa kelemahan yang mungkin tidak berarti, antara lain karena kita menggunakan Linux maka font-font yang ada mengikuti font Linux.
Dari pembahasan tersebut di atas, ternyata kita telah dimanjakan oleh distributor Linux agar kita tidak langsung menggunakan sebelum mengenalnya---seperti pepatah mengatakan “tidak kenal pasti tidak sayang”. Kita diberikan media pembelajaran dan pengenalan, agar migrasi dari sistem yang satu ke sistem yang lain tidak mengejutkan. Masih kurangkah Linux ? Jika kita evaluasi, ada beberapa media perangkat lunak yang dapat kita gunakan untuk persiapan migrasi dari Windows ke Linux, agar kita mengenal lebih dahulu----sebelum kita gunakan. Pembelajaran pertama, yang bisa digunakan---adalah menggunakan Open Office yang kita instal Windows. Kedua, menggunakan VMWare yang dapat digunakan untuk menjalankan Linux secara virtual. Yang ketiga, bagi yang masih ingin tetap bekerja dengan menggunakan Microsoft Office, bisa menggunakan Cross Over Office Professional. Sedangkan yang terakhir, bisa menggunakan live CD/DVD. Tampilan Cross Over Office Professional setelah diinstal di Linux, seperti berikut ini :

Untuk diketahui bahwa Cross Over Office Professional yang saya gunakan termasuk “TRIAL” 30 hari, harga software ini untuk : 100-499 user umum US$52.00 dan untuk pendidikan US$36.40


PENGENALAN INSTALASI LINUX DAN APLIKASINYA
Bagian paling sulit untuk dijelaskan ke pengguna baru Linux (newbie) adalah pada saat mereka menanyakan distro yang paling bagus apa ? Distro yang paling gampang apa ? dan yang terakhir yang mirip dengan “Operating System Windows” apa ? Dalam hal ini, distro paling bagus itu relatif sekali ! Kalau menurut saya pribadi adalah Open Suse, karena sehari-hari saya pengguna Open Suse, setelah sekian kali berganti distro.
Memilih distro Linux itu ibarat memilih pasangan hidup, harus berlama-lama bercengkrama, memahami lingkungannya, terkadang harus memilih lainnya kalau tidak cocok. Tetapi kalau sudah menemukan yang cocok, kita akan cukup senang dan tergila-gila dengan distro tersebut----bahkan bisa dibilang fanatik.
Bagi para newbie baik dari teman maupun kenalan baru yang bertanya, biasanya saya anjurkan untuk mencoba dulu---kombinasi dual sistem yang berbeda. Seperti yang telah menggunakan OS Microsoft Windows misalnya, akan saya sarankan menginstal OpenOffice terlebih dahulu ke dalam sistemnya. Semua fasilitas yang ada pada OpenOffice perlu dicoba; dipelajari----diamati dan yang teramkhir disenangi. OpenOffice dapat diperoleh dengan cara mendownload atau mengganti biaya CD Rp.5000,-/keping, besaran file OpenOffice sekitar 92,9 MB. Bisa kita bandingkan berapa harga Microsoft Office dengan OpenOffice ? Dalam hal “copyright”, kita sebagai pustakawan diharapkan lebih memahami tentunya. Tetapi begitu ada tawaran yang sifatnya “free” kita masih tertidur pulas dengan tetap mempertahankan perangkat lunak bajakannya; padahal kelompok pengguna linux telah mendeklarasikan istilah copyright dengan istilah gaul (istilah yang bernada humor)----yang dikenal dengan copyleft. Selain pertanyaan masalah yang berkaitan dengan distro Linux seperti diatas---newbie biasanya menanyakan tentang spesifikasi minimum yang dibutuhkan---biasanya saya sarankan paling tidak Pentium III 700 Mhz, dengan memory fisik minimal 256 MB, dan kapasitas harddisk minimal 20 GB.
Untuk urusan hardware terkadang saya menanyakan komputernya Pentium berapa ? Kalau Pentium III/IV sampai core duo pilihan distro linux lebih leluasa---bisa menggunakan kernel SMP seperti Open Suse; Mandriva; Fedora; Sabayon; Ubuntu---dan turunannya; seperti Edubuntu; Kubuntu; Xubuntu; dan sebagainya. Namun bagaimana kalau yang dimiliki pentium classic (PI atau PII) silahkan mencari small distribution seperti Damn Small Linux (DSL); Feather; Dell Linux; atau Beatrix.
Jika newbie ingin mempunyai tampilan yang mirip, atau paling “user friendly” saya tawarkan menggunakan window manager KDE yang dapat ditemui di distro Simply Mepis; Kubuntu; Mandriva; Open Suse; dan sebagainya---tetapi ingat butuh resource cukup besar, paling tidak
memory fisik harus ditingkatkan ke level 256 MB keatas.
Logo indentitas distro, terus terang penulis pertama kali yang dilihat adalah seekor burung penguin, seperti di bawah ini :

Ternyata, dari berbagai distro Linux yang didistribusikan mempunyai logo yang bervariasi, dan cukup menarik, sehingga kita sebagai pustakawan kelompok newbie juga harus mengenal. Sebagai contoh beberapa logo yang lain seperti berikut ini :

Open Suse Mandriva Indonesia Go Open Source Ubuntu
Selain logo ditro Linux seperti tersebut di atas, masih ada puluhan distro, antara lain : Debian, RedHat, Fedora, Mepis/Simply-Mepis, PC Linux, dan lain sebagainya.

PENGENALAN PARTISI HARDDISK
Dari persiapan instalasi salah satu distro yang akan kita pilih, yang harus dipersiapkan adalah membagi hardisk, atau lebih tepatnya mempartisi hardisk, hal ini tidak seperti di “Microsoft Windows Operating System” , di Linux kita tidak akan dibodohi dengan “drive C”, “drive D” dan seterusnya, maksudnya jika kita ingin mempartisi hingga 30 partisi, yang ke 27 dinamakan drive ? Padahal kita tahu bahwa banyaknya huruf hanya sebanyak 26. Sehingga Linux memperbaiki penamaannya seperti berikut ini.
1. Apabila harddisk yang kita miliki tipe IDE/ATA maka akan diberi nama “hd?”, apabila kita punya yang serial ATA maka oleh Linux akan diberi nama “sd”.
2. Penancapan pada motherboard/mainboard, apakah dipasang secara “primary” atau “secondary”, kalau sudah apakah secara “master” atau “slave”. Primary master akan dikenali di Linux sebagai “hda”, primary slave dikenali sebagai “hdb”, secondary master sebagai “hdc” dan secondary slave akan dikenali “hdc”.
3. Setelah itu baru kita partisi, misalkan hda akan dipartisi sesuai jumlah yang diinginkan maka nama-namanya akan diberi oleh linux seperti berikut : hda1; hda2; hda3; hda4; hda5 dan seterusnya.
4. Selain partisi di atas masih ada dua jenis, yaitu partisi primary dan partisi logical.
Primary menempati urutan hda1; hda2; hda3; hda4, dan logical menempati hda5 dan
tidak terbatas.
5. Agar memiliki partisi yang tidak terbatas, maka harus ada satu partisi primary yang dijadikan logical, dan di dalam 1 logical terbatas beberapa partisi logical lainnya.
Di Linux pada dasarnya hanya butuh dua partisi yaitu root, dan partisi swap. Root adalah tempat dimana system operasi diletakkan. Untuk root, apabila menginstal live CD dibutuhkan 3-4 GB. Apa yang dimaksud dengan live CD ? Linux, sudah memikirkan bahwa agar newbie tertarik perlu dibuatkan semacam contoh berupa live CD. Dimana live CD ini dapat dijalankan tanpa harus diinstal ke dalam komputer---artinya live CD membawa kita seakan-akan sudah menginstal Linux, padahal kita masih menghidupkan CD tersebut. Pustakawan seharusnya dapat mencoba live CD berbagai distro yang ada----jika tidak mau dianggap gatek.
Adakah kurangnya Linux ? Hampir semua, yang telah mengenal tentu akan menjawab tidak. Jika masih ada yang kurang, yaitulah tantangan pustakawan----bukan hambatan. Untuk itu marilah kita buat yel disini dengan sebuah kalimat : Pustakawan siap merubah hambatan menjadi tantangan.

PENUTUP
Dari beberapa pengalaman ini, penulis berharap dapat membuat teman-teman pustakawan di seluruh tanah air untuk terbangun dari kenikmatan menggunakan perangkat-lunak bajakan---sedikit demi sedikit, marilah kita belajar bersama---berdiskusi melalui media forum Linux atau dapat menggunakan media VisiPustaka. Insya Allah kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dapat diselesaikan melalui forum ini. Syukur-syukur dari beberapa pustakawan yang sudah pengalaman berselancar dengan Linux bersedia menjadi moderator---tentu ini akan lebih menarik---dan dengan segala kerendahan hati hal ini patut kita hargai. Lebih-lebih jika VisiPustaka dapat hadir setiap bulan dengan halaman berwarna, yang salah satunya berisi tentang forum diskusi seputar pemanfaatan teknologi informasi, baik yang berbasis Windows maupun Linux, ini sangat bermanfaat sebagai media pembelajaran pustakawan khususnya----masyarakat pada umumnya, tentu itulah yang kita harapkan semua.
DAFTAR RUJUKAN :
1. http://download.openoffice.org/2.2.0/
2. http://www.vmware.com/products/ws/
3. http://www.codeweavers.com/products/download_trial/
4. http://en.opensuse.org/Download
5. http://www.mandriva.com/download
6. http://www.canonical.com/ email : marilise@canonical.com